Sekolah!

Bu Muslimah

Siapa yang baca atau nonton Laskar Pelangi, pasti tahu siapa Ibu Muslimah. Saya tersenyum membaca ujaran beliau tentang bagaimana sekolah mengubah hidup kita. Tersenyum karena merasa semangat tersebut pas dengan perjalanan hidup saya, yang berubah-ubah karena sekolah. Mulai dari sekolah di SMA Negeri sementara kedua kakak saya tidak dapat restu almh. Mama untuk sekolah di negeri, lalu hidup di Jogja karena kuliah – kota yang sering saya anggap kampung halaman walaupun tidak ada darah suku Jawa mengalir dalam tubuh saya, lalu melanjutkan perjalanan ke Negeri Jiran, lalu kemudian ketemu “rumah kedua” saya dan suami: Albany, sebuah kota kesayangan di upstate New York.

Kapan hidup berubah? Setelah sekolah? Karena sekolah lalu setelahnya hidup berubah? Iya juga. Makanya orang menyebut pendidikan sebagai investasi, “penanaman modal” untuk masa depan, untuk bisa mendapat atau menciptakan kerjaan, lalu berpenghasilan lebih (daripada jika ia tidak sekolah, menurutnya) dan untuk mencapai status sosial ekonomi lebih baik pula. Tidak ada salahnya beranggapan pendidikan sebagai investasi, walaupun menurut data kuliah S3 tidak lagi pas untuk dianggap investasi yang diukur lewat penghasilan semacam ini. Malah defisit hehehe. Tetapi saya pribadi setuju pada pandangan lain, bahwa pendidikan itu sendiri adalah sebuah kehidupan, malah dosen S3 saya menggunakan istilah yang lebih ekstrim tapi betul juga: “pendidikan adalah rekreasi.”

“Coba bayangkan,” ujar si Distinguished Professor ini, “kamu dibayar, oleh donor beasiswamu, untuk membaca buku-buku keren, untuk berkali-kali terkesima oleh ide-ide dan temuan-temuan penelitian, untuk berdebat dan berdiskusi.” Jelas ini sebuah rekreasi untuk kami-kami yang nerd ini.

Sekolah lah, dan hidupmu akan berubah!

Karena sekolah, cara saya berpikir dan melihat dunia berubah. Kosakata saya bertambah. Minat saya akan musik, film, dan karya seni berubah. Pola makan dan pola tidur juga berubah ketika sekolah (not necessarily in a good way hehe). Makna “ketemuan ngobrol-ngobrol” pun berubah juga.

Sekolah mempertemukan saya dengan orang-orang yang bicara dengan “bahasa” yang sama, dengan minat dan kepedulian serupa, dan kecemasan yang tidak jauh beda. Saya ingat ketika saya dan teman-teman kuliah yang sama-sama perempuan Asia, dengan serunya kami membahas masalah disertasi sampai micro aggression sambil makan sushi. Tidak satupun cemas dengan banyaknya porsi makan kami siang itu, karena apa? Karena kami sekolah, mungkin jadi berubah juga konsep diri kami.

Menyenangkan sekali ketika kami tidak ragu-ragu dan malu-malu belajar dari satu sama lain ketika mengulas sebuah kebijakan pendidikan dari sudut pandang teori yang berbeda-beda sambil ngopi-ngopi cantik (yakali deh cantik hahaha). Tidak perlu malu karena nyaris tidak ada yang nyeletuk, “Duh ribet banget sih obrolannya, santai aja kali!” Tidak perlu takut dianggap annoying ketika secara spontan protes soal narasi yang patriarkis atau bias gender. Karena teman-teman yang lain juga sama annoying-nya.

Sekolah itu adalah habitat di mana komunitas pembelajar hidup dan berinteraksi.

You embraced every opportunity to learn, without being too worry if the lessons will benefit your future. You just love to learn…” Demikian ujar dosen saya ketika ia selesai membimbing disertasi saya, dan memberikan apresiasi bahwa ia senang melihat saya tumbuh kembang selama 4 tahun di sekolah itu bersamanya. Saya tidak tahan menitikkan airmata ketika pujian itu disampaikan pada saya.

Memandang sekolah hanya sebagai investasi, bekal masa depan semata, akan mereduksi maknanya.

Sebelum saya berangkat ke Amerika, teman saya tanya apakah perlu banget saya kuliah S3, “ada rasa khawatir ngga hiduplo akan tertunda, jadi tertunda punya anak, mobil, …”

Dan jawab saya, “this is life, kita cuma punya rangkaian bab dan alur cerita yang berbeda. Karena buku kehidupan yang kita tulis beda versinya.”

*ditulis dengan rasa penuh rindu ingin jadi mahasiswa lagi.

Advertisements

Jembatan itu Bernama RPTRA

Seberapa jauh daerah Tanah Kusir dari informasi tentang gizi yang baik? Tentang murahnya, kalau bukan gratis, biaya pengobatan menggunakan BPJS? Tentang cara bercocok tanam menggunakan teknik hidroponik?

Kalaupun tidak melalui Google, seberapa jauh puskemas untuk mengecek apakah untuk mengikuti program KB seorang ibu bisa menggunakan BPJS-nya? Dekat, secara geografis. Tetapi secara sosial?

Dalam kajian tentang kemiskinan ada yang disebut dengan social exclusion, dan masalah ketidakikutsertaan atau terisolasinya seseorang ini bukan melulu terkait kondisi geografis melainkan bisa jadi karena kemiskinan seseorang yang menyebabkan ia excluded dari berbagai informasi dan layanan yang sangat mendasar, yang secara teknis sebenarnya bisa diakses dengan mudah oleh kebanyakan orang.

Ini menjelaskan mengapa ada seorang ibu yang sehari-hari bekerja sebagai pencuci baju di wilayah Tanah Kusir, Jakarta, tidak tahu bahwa dengan BPJS-nya ia berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. Apa susahnya pergi ke Puskesmas? Ya, sebagian dari kita mungkin berpikir begitu karena terbiasa untuk mencari informasi secara aktif. Tetapi ibu ini mengalami hambatan sosial termasuk rasa cemas, takut dihardik ketika harus berkonsultasi tentang sistem BPJS di Puskesmas, atau bahkan takut terkena pungutan-pungutan yang memberatkannya. Kemiskinannya membuat ia berjarak sangat jauh dari layanan dan informasi yang sebenarnya penting untuk dirinya dan keluarganya.

Dari hasil wawancara dengan salah satu pengelola RPTRA, saya melihat bagaimana tempat ini menjadi hub, titik yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan yang disediakan oleh berbagai providers baik yang disediakan pemerintah ataupun swasta/masyarakat.

RPTRA ini juga bisa diibaratkan sebagai “jembatan” yang menghubungkan si ibu tadi dengan Puskesmas, sehingga ia tadi tidak lagi excluded dari layanan kesehatan. “Bulak-balik dia tanya, beneran gratis, Bu? Saya jawab ‘iya, bawa terus BPJS dan surat-surat lainnya,” cerita ibu Evi, Pengelola RPTRA tersebut ketika menggambarkan betapa kesenjangan informasi terjadi ketika masyarakat pada umumnya sudah tahu benefit BPJS.

“Termasuk kekerasan rumah tangga, Mbak. Masih banyak yang belum tahu ke mana harus minta perlindungan, dan kami bantu juga salurkan kebutuhan itu. Lalu ada yang juga sakit jiwa, selama ini nggak diapa-apain, sekarang sudah bisa berobat juga,” ujarnya lagi sambil sesekali memperhatikan sekumpulan anak-anak usia TK yang asyik menyusun plastik kubus serupa Lego yang disumbangkan ke RPTRA itu.

RPTRA, Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, bukanlah sekedar ruang, lapangan, dan teras tempat berkumpul dan beraktivitas; tetapi ada program dan pelayanan di dalamnya, yang menurut saya sangat penting untuk mencapai cita-cita bangsa: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mengapa di ruang yang katanya untuk anak ada layanan untuk orang tua seperti di atas segala? Dan mengapa harus RPTRA yang menjadi jembatan ini?

Pertama, kesejahteraan (wellbeing) anak dipengaruhi kondisi kesehatan dan wellbeing orangtua mereka, itu cukup jelas sehingga saya tidak usah panjang lebar membahasnya.

Selain itu saya juga ingin menggunakan konsep social capital untuk menjawab pertanyaan ini. James Coleman dan Robert Putnam menggunakan konsep sosial capital untuk menjelaskan kesenjangan pendidikan akibat social exclusion tadi.

Social capital dalam teorinya Coleman adalah sumberdaya (capital) atau modal yang penting untuk pendidikan, yang didapat bukan karena punya uang tapi karena punya social network.

Coleman menjelaskan bahwa hubungan sosial yang kuat (yang lebih dari sekedar hubungan pasien-dokter atau pembeli-penjual, tetapi hubungan kekerabatan) yang dimiliki antara 1) orangtua dengan pihak lain yang kaya akan informasi dan 2) orangtua dengan anak (yang kedua ini saya akan bahas di blogpost yang lain) adalah modal penting untuk tumbuh kembang anak. Sehingga ketika yang nomor 1 tadi tidak terwujud, kedekatan ortu dengan anak masih sulit untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang termasuk pendidikan anak.

RPTRA secara rutin membuat program untuk anak dan ibu, mulai dari sesederhana bermain “lego” sampai penyuluhan kesehatan dan gizi. “Ada ibu-ibu yang nemenin anaknya main atau baca buku sampai hampir setiap hari,” ujar ibu Evi.

Karena sering ketemu inilah ibu Evi juga merasa nyaman untuk membantu keluarga mengakses berbagai layanan kesehatan tadi. Ia tidak perlu segan-segan dan khawatir dianggap ikut campur urusan rumah tangga karena sudah ada rasa percaya yang terbangun. Trust ini sulit terbangun tanpa adanya interaksi sosial yang terbangun terus menerus dari hari ke hari.

Sesekali memang bu Evi dan pengelola lainnya melakukan home visit untuk mempelajari kebutuhan keluarga sekitar, tetapi tentu terlalu sering kunjungan ke rumah warga juga tidak wajar. Jauh lebih natural bertemu orang tua saat berkebun hidroponik, saat belajar masak, atau saat bermain futsal. Dan biasanya saat-saat seperti inilah Ibu Evi mulai berbagi informasi yang sulit diakses apabila ibu-ibu di perkampungan tersebut hanya berinteraksi dengan sesamanya.

Pembangunan Fisik dan Manusianya

Layanan BPJS dan adanya BOS dan KIP yang disediakan pemerintah sudah membuat kesehatan dan pendidikan lebih terjangkau dari segi biaya. Namun hasil obrolan saya dengan pengelola RPTRA menunnjukkan bahwa kita masih perlu jembatan yang bukan saja memberikan informasi tetapi juga mendamping masyarakat ketika untuk dapat lebih efektif menerima layanan tadi. Inilah kenapa saya percaya RPTRA dapat membantu terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

RPTRA adalah ruang fisik yang memang perlu dibuat luas supaya pengguna bisa berolahraga, menari, dan beraktivitas lainnya dengan leluasa. Ya, RPTRA memang pembangunan fisik, tapi bukan itu saja!

Kita perlu lebih dekat lagi melihat RPTRA, lebih peka lagi menilai peranannya yang lebih dari sekedar taman bermain. Dengan adanya pengelola dan program-program yang mereka organisir, social capital terbangun antara masyarakat perkampungan setempat dengan berbagai pemberi layanan yang dapat mendorong kesejahteraan anak dan keluarga.

“Dokter-dokter juga bilang sama saya, sekarang ada RPTRA jadi lebih enak ngasih penyuluhan, udah jelas tempatnya dan orang-orangnya jadi pada mau datang,” ujar bu Evi lagi. Dan di akhir obrolan saya dengan bu Evi, kami sepakat bahwa RPTRA adalah jembatan yang strategis untuk mempertemukan mereka yang ingin meningkatkan kualitas hidupnya dengan mereka yang ingin membantu sesama.

The Woods: Daycare & TK Abad 21

Apa yang terlintas di benak kita ketika membayangkan seperti apa The Woods, daycare dan taman bermain (preschool) tempat anak-anak petinggi Google belajar? The Woods ini ada di Mountain View, California, wilayah yang dikenal sebagai Silicon Valley. Sekolah ini sampai mendapat imej sebagai sekolahnya Google karena mendapat kepercayaan yang besar dari para innovator yang mempunyai anak balita.

Teknologi, gadget, dan futuristik – jika tiga kata kunci ini yang kamu pikir menjadi karakter The Woods, maka kita sama-sama keliru. Awalnya saya juga membayangkan touch screen besar menggantikan papan tulis, juga tablet dan berbagai aplikasinya menggantikan kertas dan pensil warna. Sehingga terus terang awalnya saya agak kurang antusias untuk mengunjungi The Woods, semata-mata karena saya masih percaya bahwa bermain dengan benda-benda tiga dimensi adalah proses belajar yang penting untuk anak-anak, bukan sekedar tapping layar tablet atau smartphone.

Tapi saya salah! The Woods jauh sekali dari apa yang saya duga. Dan kesalahan ini mungkin terjadi karena kita sering mengasosiasikan pendidikan Abad 21 dengan penggunaan teknologi. Kita beranggapan keterampilan yang harus dimiliki anak-anak adalah kemampuan menggunakan teknologi.

Sebaliknya, The Woods mengingatkan kita pada prinsip yang jauh lebih mendasar tentang makna pendidikan Abad 21: pendidikan yang mendorong anak-anak untuk mampu berpikir tingkat tinggi, berkolaborasi, berkomunikasi, serta terus semangat mengeksplorasi. Dengan atau tanpa teknologi, skills ini harus dikembangkan, dan tidak akan pernah usang.

Jika ada satu hal yang bisa menunjukkan bagaimana The Woods mencerminkan budaya Google, maka itu adalah kesempatan untuk berinovasi. Orientasi The Woods bukanlah pada penggunaaan teknologi komputer dan internet. Fokus sekolah ini adalah untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya dan bimbingan seefektif mungkin kepada anak-anak untuk berpikir inovatif dalam berbagai kegiatan di sekolah. Tidak hanya di dalam kelas, tetapi ketika bermain, berinteraksi satu sama lain, makan siang, dan istirahat siangpun sekolah ini tidak luput memberikan kesempatan anak-anak belajar. Dan berpikir inovatif inilah keterampilan Abad 21 yang jauh lebih penting daripada keterampilan menggambar menggunakan berbagai aplikasi komputer.

Kesempatan untuk berpikir inovatif ini tercermin dari setidaknya 3 hal: kualitas guru, fasilitas, dan rancangan kegiatan. Fasilitasnya apa? Jangan harap menemukan tablet dan komputer berjejer di sekolah ini. Sebaliknya, di setiap kelas hanya ada satu komputer yang digunakan guru untuk urusan administrasi. Sisanya, semua serba benda tiga dimensi. Belajar tentang bentuk benda? Batu berbagai ukuran, bola berbagai ukuran, dan kotak-kotak sereal serta benda lainnya berjejer di satu pojok sekolah.

Mata saya mulai berbinar-binar begitu masuk ke area bermain yang berada di tengah-tengah, di antara deretan ruang kelas dan aula. Area bermain anak-anak dipenuhi berbagai benda yang tidak nampak seperti mainan. Dengan kata lain, kesannya tidak ada mainan sama sekali! Beberapa krat susu yang terbuat dari kayu (semacam krat botol minuman) kosong ditumpuk di tengah-tengah halaman. “Tadi anak-anak membuat benteng dengan menumpuk krat-krat ini,” ujar salah satu guru yang memandu kami. “Kadang krat-krat ini jadi pulai, kadang jadi perahu, tergantung tema bermain mereka, kita sih nonton saja dari pinggir,” tambahnya.

Ada kubangan air tempat anak-anak bermain lumpur, ada pot bunga dan sekop serta garpu taman sungguhan yang berukuran mini untuk mereka gunakan ketika berkebun. Ada tumpukan kayu-kayu dan papan yang dapat mereka gunakan untuk membuat berbagai perabot dan peralatan bermain. Semuanya benda betulan, bukan mainan, “Kita biarkan mereka memutuskan apa yang ingin dibuat dari benda-benda ini, kita sediakan saja fasilitasnya, dan biarkan mereka berimajinasi,” ujar kepala sekolah The Woods.

Saat bermain, guru-guru mengobservasi mereka tanpa banyak intervensi. Mereka terdidik dan terlatih untuk peka dan mengerti kapan mereka harus mendorong anak untuk bermain bersama yang lain, dan kapan membiarkannya untuk sibuk sendiri di sudut halaman sekolah. Latar belakang guru-guru di The Woods adalah pendidikan anak usia dini yang paham tahap-tahap tumbuh kembang anak. Mereka menggunakan berbagai cara unik untuk membangun komunikasi yang baik dengan orang tua. Salah satunya adalah dengan men-scan hasil karya anak-anak untuk disampaikan pada orang tua. Biasanya hanya gurulah yang banyak menggunakan teknologi. Sementara anak-anak sekolah ini asyik dan sibuk berinovasi dengan benda-benda tiga dimensi.

Fasilitas lain yang mengagumkan adalah kualitas alat yang digunakan. Ada satu ruangan besar digunakan khusus untuk menyimpan berbagai perlengkapan belajar: spidol, kertas warna-warni, cat air, kanvas lukis, berbagai motif pita, bergulung-gulung benang wol, kain, clay dan sebagainya. Anak-anak membuat patung, menggambar dengan berbagai media, berlatih memalu paku, menjahit dengan mesin listrik, dan semua ini dilakukan dengan alat yang sebenarnya, bukan mainan; dan kualitas alat-alatnya pun menyerupai peralatan yang ada di bangku kuliah. Cat airnya, misalnya, bermerk ternama. Di sini letak beda harga sekolahnya, batin saya.

“Mereka tidak sedang berpura-pura belajar, tapi belajar betulan. Maka alat belajar mereka pun alat betulan,” ujar kepala sekolah ketika menjelaskan bahwa seluruh peralatan yang disediakan untuk belajar adalah peralatan berkualitas tinggi, yang biasa digunakan oleh orang dewasa. “Kita ingin mereka suka menggambar, tetapi kalau alat gambarnya tidak baik, kualitas warnanya buruk, bagaimana mereka bisa semangat, kan?” ujarnya menjelaskan tentang kualitas alat gambar yang disediakan.

Berprinsip pada filosofi pendidikan John Dewey, kepala sekolah The Woods yakin bahwa anak-anak harus mengalami, experiencing berbagai proses, bereksperimen menggunakan berbagai alat, dan mencoba sendiri menjawab pertanyaan mereka, lalu membangun pertanyaan baru, kemudian menjawabnya lagi, dan terus-menerus berpikir inovatif.

Menggunakan alat yang sebenarnya (bukan mainan), serta membiarkan lingkungan sekolah apa adanya tanpa dicat warna warni yang artificial, The Woods berprinsip bahwa anak-anak perlu tumbuh di lingkungan yang alami dan belajar hal-hal yang juga alami mereka temui di luar sekolah. Dewey berprinsip bahwa sekolah bukanlah ruang yang terisolasi dari “kehidupan nyata”, dan sekolah bukanlah persiapan untuk hidup melainkan bagian dari hidup anak-anak.

Logika dan Iman

Beberapa kali saya disarankan: “Menerima ajaran-Nya tidak membutuhkan logika, cukup percaya. Dengar, dan terima dengan hati terbuka.” Indah. Tapi meresahkan. Meresahkan karena saya ragu apakah iman dan logika memang tidak perlu berjalan beriringan, tidakkah iman saya dipengaruhi oleh apa yang saya anggap benar?

Sayangnya saya tidak  pernah benar-benar menghiraukan statement semacam itu, sampai beberapa hari yang lalu dalam rangka ingin belajar metode-metode berpikir yang lebih baik, saya diajarkan Kreeft (2014) dalam bukunya “Socratic Logic” tentang keterkaitan antara iman dan logika. Ia menjelaskan singkat, terlalu singkat, mungkin, tetapi saya ingin menyimpan pelajaran tersebut di blog ini agar tidak mudah lupa :) (seriously, tidak usah menjadikan blogpost ini sebagai referensi, saya newbie banget urusan logika).

Menurut Kreeft ada 3 cara logika dapat membantu kita membangun faith.

Pertama, fungsi logika adalah membantu kita berpikir jernih dalam memahami segala sesuatu, termasuk dalam memahami apa yang kita percayai atau imani. Clarity dalam mengidentifikasi apa yang diimani seingat saya adalah dasar-dasar dalam beragama yang diajarkan di sekolah dasar. Sifat-sifat dan nama-nama Tuhan (dalam Islam dikenal dengan Asmaul Husna), misalnya, adalah pengenalan dasar yang berguna untuk mengimani Tuhan.

Contohnya, apakah menghilangkan suatu kelompok, ras, atau etnis dari muka Bumi adalah sesuatu yang diajarkan Tuhan saya? Menjawab hal ini perlu kemampuan berlogika: 1) Tuhan adalah Maha Kuasa dan Pencipta, 2) Tuhan mampu dan berkehendak menciptakan manusia dengan berbagai warna kulit, etnis, dan bangsa, maka 3) percaya pada Tuhan adalah percaya bahwa keberagaman manusia adalah kehendak-Nya. Saya tahu bahwa antitesis dari contoh kasus ini juga bisa dibagun menggunakan metode logika, karena argumen tidak pernah bernilai moral benar atau salah, argumen hanya bisa valid atau tidak valid, atau logis atau tidak logis (Kreeft, 2014).

Kedua, logika deduksi dapat membantu kita untuk lebih kuat dan termotivasi dalam hidup. Jika kita mengimani firman Allah dalam Al Quran bahwa di balik setiap ada kesulitan ada kemudahan, maka kondisi sulit yang sedang dialami bukanlah akhir dari segala harapan. Sebaliknya, ayat tersebut akan mendorong kita untuk bertahan dan terus berjuang.

Ketiga, logika akan memberikan landasan yang kuat untuk bertahan pada keyakinan kita. Bandingkan dengan mengimani sesuatu atas dasar ditakut-takuti orang tua (atau guru), misalnya. Jika sudah “bebas” dari tekanan orangtua, apakah masih mengimani? Bandingkan dengan mengimani ajaran agama berbasis logika, keyakinan itu akan “tertancap” lebih kuat di dalam diri – walaupun apa yang dipercaya itu memang belum tentu dapat dibuktikan secara empiris.

Jadi, menurut Kreeft, logika memang bisa jadi tidak cukup berperan dalam membuktikan ajaran agama, tetapi metode berpikir yang lebih jernih, lebih sistematis, bisa membantu kita untuk lebih bijak dalam memahami dan mengimani ajaran agama. Pernyataan Kreeft ini, dan juga berdasarkan teori-teori belajar lainnya, menguatkan pendapat saya bahwa ketika memperkenalkan Tuhan dan ajaran agama pada anak-anak, jangan mereduksi esensi iman menjadi sebatas dosa dan pahala, neraka dan surga. Sebaiknya, dan bisa kok, mengajarkan anak-anak untuk bersyukur dan mencintai Sang Pencipta karena alasan-alasan yang logis, seperti yang pernah saya dengar ucapan seorang ibu pada anaknya yang berusia 10 tahun: “Ayat pertama yang diturunkan Allah adalah Iqra, artinya kamu harus membaca, belajar. Ayat ini turun untuk semua umat Islam, jadi kalau kamu beriman pada Allah dan ayat-Nya, maka harus belajar dan terus membaca.”

Last but not least,

Saya baru baca bagian awal buku Kreeft ini, tetapi perlu waktu yang cukup lama untuk belajar langkah-langkah berlogika yang disajikannya di bab pertama. Di bab ini ia menulis, “in order to disagree with any conclusion, you must show that there is either (1) an ambiguous term, or (2) a false premise, or (3) a logical fallacy in the argument such that the conclusion does not necessarily follow from the premises.” — Untuk tidak setuju dengan kesimpulan (atau argumen), kamu harus dapat menunjukan bahwa (1) istilah yang digunakan tidak jelas atau ambigu, (2) premis atau fakta yang dinyatakan tidak benar/tepat, atau (3) kekeliruan dalam bernalar ketika menyusun argumen sehingga kesimpulan tidak mengikuti premis, atau ngga nyambung.

Di bagian ini saya merasa bahwa ilmu ini penting dalam memperdebatkan berbagai hal, termasuk interpretasi ajaran agama. Beberapa kali saya terjebak dalam debat kusir ngga mutu blas ketika berdebat beberapa kasus terkait agama. Semoga ke depannya saya bisa pilih-pilih belajar, bukan dari mereka yang semata-mata asyik meninabobokan logika dan malah menyerang pribadi (ad hominem) yang biasanya menimpali saya dengan nada nyinyir: “Ya udah deh, semoga segera diberi hidayah ya”. LOL.

Mereka Enggan Jadi Guru

Hanya sekitar 11% dari anak-anak muda Indonesia usia 15 tahun yang berkeinginan menjadi guru. Demikian data survei yang ditemui berdasarkan hasil tes PISA tahun 2006 yang diselenggarakan oleh OECD. Angka yang kecil? Sebenarnya tidak juga, jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Finland yang sering menjadi referensi pendidikan, misalnya, angkanya masih di bawah 5%, demikian juga negara maju lainnya.

Ketika di negara-negara lain anak muda yang berminat menjadi guru lebih banyak perempuan, lagi-lagi berbeda untuk Indonesia, menurut data PISA. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara jumlah perempuan dan laki-laki yang memandang profesi guru menarik. Merujuk pada data ini saja, kita boleh sedikit berharap feminisasi profesi guru tidak akan terjadi di Indonesia.

Pertanyaan berikutnya, siapa yang ada dalam 11% remaja Indonesia yang ingin jadi guru?

Di Indonesia, mereka yang ingin jadi guru secara signifikan memiliki kemampuan matematika yang lebih rendah daripada teman-temannya yang memilih profesi lainnya. Bahkan relatif lebih rendah daripada mereka yang memilih jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan pendidikan S1. Ini yang kemudian membedakan Indonesia dengan Finland, Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat di mana mereka yang berminat untuk jadi guru memiliki kemampuan matematika yang tidak berbeda secara siginifikan dengan teman-temannya.

Padahal, kesimpulan yang diperoleh OECD ketika menganalisa data dari beberapa puluh negara di tahun 2015 adalah sebagai berikut:

Getting the right people to become teachers and developing them into effective instructors are two of the key characteristics that differentiate high- and low-performing education systems.

Artinya, pertama, “pe-er” negara untuk meningkatkan kualitas guru tidak cukup hanya membina guru-guru yang sudah ada, yang sedang mengajar, yang sudah masuk ke dalam profesi ini. Menyiapkan guru adalah langkah yang sangat besar. Preservice teacher education program (program pendidikan calon guru) harus dirancang dengan baik supaya lulusannya siap untuk menjadi guru profesional.

Kedua, program preservice education pun membutuhkan bakal calon, atau bibit yang unggul, yang punya kapasitas besar. Kenapa? Contohnya guru matematika. Calon guru matematika perlu belajar ilmu matematika bukan saja untuk dirinya, tetapi juga untuk diajarkan ke murid-muridnya kelak. Jadi mereka perlu memiliki bekal ilmu matematika sekaligus ilmu mengajar (pedagogi).

Jadi siapa yang berminat jadi guru di antara remaja Indonesia? Benarkah profesi ini adalah “last resort“, dipilih ketika pilihan lain yang dianggap lebih oke sulit/tidak terjangkau?

Sebelumnya, saya asumsikan dulu bahwa informasi yang OECD sajikan layak dipercaya (walau saya cukup takjub, ada banyak juga ya, di atas 10%! kayanya saya tidak banyak ketemu remaja yang ingin jadi guru deh #kuranggaul). Dan saya ingin kaitkan data tersebut dengan imej profesi guru di masyarakat kita, termasuk di kelompok anak muda, yang bisa jadi membuat profesi ini tidak menjadi pilihan pertama mereka.

Gaji guru itu satu hal, tetapi dugaan saya ada hal lain yang juga membuat profesi ini tidak berhasil menarik minat lulusan SMA yang berprestasi, salah satunya adalah imej guru yang kurang menarik untuk mereka.

Ketika mewawancara calon mahasiswa Fakultas Keguruan, saya tidak jarang mendengar bahwa alasan mereka ingin menjadi guru adalah karena mereka ingin seperti guru yang menginspirasi hidup mereka. “Guru saya sangat perhatian, sangat peduli pada murid-muridnya, saya ingin seperti dia,” begitu kira-kira. Jawaban semacam ini membuat saya bertanya, ada berapa banyak remaja Indonesia yang beruntung mengalami proses belajar yang begitu mengesankan sehingga mereka ingin menjadi guru? Apakah profesi guru yang dianggap sangat bermakna tersebut adalah narasi yang dominan di kalangan remaja, ataukah hanya sedikit sekali yang merasa demikian? Jika satu guru keren mengajar ratusan anak, apakah mayoritas akan terinspirasi jadi guru? Jika tidak, mengapa? Orang tua yang menahan mereka? Apa benar gaji menjadi alasannya? Jenjang karier, barangkali, seperti yang pernah saya dengar dari seorang teman (bukan teman favorit saya hahaha): “karier gue udah sampai mana-mana, guru gue masih gitu aja!”

Selain itu, saya juga membatin: “Susah kali ya terinspirasi jadi guru ketika yang dihadapi murid SMA adalah guru yang killer, yang tidak menyenangkan, gagal membuat murid jatuh cinta pada ilmu pengetahuan, yang membaca sejarah semata-mata sebagai teks yang usang, yang lampau, yang otoriter dan berulang kali melarang ini itu tanpa alasan yang jelas.

Tetapi lalu saya juga mendengar alasan mereka yang jadi guru karena ingin membuat perbedaan. “Saya ingin jadi guru karena dulu saya suka melihat guru saya membuli, mempermalukan muridnya di muka umum, marah-marah tanpa alasan jelas. Saya bertekad untuk jadi guru yang lebih baik.”

Menebak motivasi remaja untuk menjadi guru memang tidak gampang, dan hingga saat ini belum ada penelitian yang mereplika studi OECD di atas untuk konteks Indonesia, sehingga saya belum tahu persis bagaimana menarik minat lebih banyak anak muda, khususnya yang berprestasi, untuk membangun bangsa melalui pendidikan dengan menjadi guru. Maka diantara obrolan saya dengan teman-teman yang bekerja di media massa, saya request ke mereka:

“Nitip ya, kalau berita soal pendidikan sekali-kali ditampilkan juga guru-guru yang profesional, jangan terus-terusan imej guru yang dimunculkan adalah ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ yang seolah-olah pasrah dengan gaji rendah sehingga patut dikasihani.

Sekalian juga di sinetron-sinetronnya, tolong jangan lagi tampilkan imej guru yang menyebalkan, melotot-melotot dan menor. Atau yang dikerjain terus sama siswanya, yang kayanya bloon banget gitu loh. Bantu naikin pamor profesi guru ya,” pinta saya.

Liputan yang relevan dengan catatan ini ada di website CNNIndonesia ini

Lalu di website IDNTimes ini, dan di website MetroTVnews ini.

Technology Badge, checked!

Kesempatan ikut ujian sertifikasi Google Educator Level 1 tiba hampir setahun lalu, tapi awalnya saya menolak, semata-mata karena saya tidak suka tes, tidak suka ujian. Sehingga kalau ngga perlu-perlu amat, saya ngga minat mengukur diri lewat tes-tes formal.

Jadi saya hanya ikut persiapannya, karena memang ingin belajar menggunakan berbagai fasilitas Google untuk mengajar.

Seiring waktu, saya melihat bahwa banyak anak-anak Jakarta yang sudah pegang smart phone dan laptop, tapi belum familiar sama sekali dengan Google Docs dan Google Slides, dua yang paling umum dari sekian apps Google yang dipakai di sekolah.

“Di sekolahnya, SD belum banyak pakai teknologi. Dibiasakan membaca dan menulis dulu,” ujar sang ibu dari anak SD swasta di Jakarta yang sekolahnya relatif berpotensi untuk mengintegrasikan teknologi.

Tentu saya merasa jawaban tersebut tidak pas. Teknologi bukan penghambat literasi.

Sementara teman-teman yang kebanyakan adalah orangtua murid dan guru, juga rupanya masih belum melihat potensi Google app yang gratisan itu proses belajar anak-anak mereka. Padahal akses internet sudah tersedia 24/7 di rumah mereka.

Sebagian dari teman-teman meminta saya untuk berbagi skill penggunaan tools tadi untuk belajar. Saya tidak keberatan sama sekali. Namun saya kurang pede: sudah mampu kah saya berbagi ilmu dalam hal ini?

Maka tawaran seorang guru yang super keren di suatu siang di dua minggu lalu saya sambut dengan respon yang sangat jauh berbeda dari beberapa bulan sebelumnya, “ya, saya mau ikut sertifikasinya!”

“Tapi voucher saya harus segera dipakai, jadi minggu depan Bu Nisa harus ikut tesnya,” ujarnya.

“Iya, gapapa saya akan belajar seminggu ini!” Balas saya yang semakin kenal diri sendiri: kalau tidak dipaksa tidak akan belajar hehehe.

Ini bukan karena saya sudah tidak sebel dengan yang namanya tes atau ujian formal. Saya masih suka kesel dengan apa yang dilakukan tes terhadap jadwal tidur dan jadwal akhir pekan saya – termasuk terhadap jerawat di muka saya *sigh.

Tapi saya memutuskan untuk ikut sertifikasinya karena ingin tahu kelayakan saya berbagi ilmu, karena keinginan saya untuk lebih banyak sekolah memanfaatkan Google untuk merancang proses belajar yang lebih efektif, lebih relevan untuk anak didik mereka yang sudah bersahabat dengan dunia digital. Saya juga ingin berbagi agar siswa dan mahasiswa lebih nyaman berkolaborasi menggunakan tools yang terus terang sudah berkali-kali membantu saya kuliah dan kerja ini.

Terus terang saya merasa perlu memiliki sertifikat, dan tidak cukup sertifikat level 1, untuk lebih pede untuk berbagi ketermapilan menggunakan berbagai platform ini.

Jadi ini cuma langkah awal, benar-benar “batu pertama” yang diletakkan, karena saya tidak pernah sebegini antusias soal teknologi dalam pendidikan. Langkah awal karena dalam check list saya masih ada agenda-agenda berikutnya untuk dicapai, sampai akhirnya saya bisa benar2 berkontribusi untuk pendidikan lewat teknologi ini.

Si annoying

I am your annoying friend,” tulis saya di Whatsapp Group yang isinya teman-teman lama. Sama sekali tidak ada kekesalan dalam menyampaikannya, walau khawatir bahasa tulisan tidak dapat menunjukkan rasa nyaman dan kesungguhan saya berkata demikian.

“I am your party pooper,” dalam kesempatan lain saya juga menulis begitu. Tidak ada maksud nyinyir sama sekali, benar-benar saya sadari bahwa menyebalkan sekali pastinya jika di tengah-tengah obrolan yang harmonis, saya hadir dengan pandangan sumbang.

Diem aja, kek! Mungkin demikian sikap yang dipilih saya yang dulu, yang tidak enak kalau berbeda pandangan dengan mayoritas, yang suka takut dinilai agresif.

Tapi Nisa semakin tua semakin annoying, kenapa?

Pertama, menahan diri didn’t work much. Setelah saya ingat-ingat, mau menahan diri seperti apa pun, tetap muncul juga kelakuan saya yang tidak bisa diam, tidak mau tutup mulut. Malah melelahkan jiwa saja jadinya, tapi sia-sia menyembunyikan sifat aslinya.

Kedua, di hadapan teman-teman yang saya percaya, saya ingin apa adanya saja. Saya percaya kalau teman-teman saya ini tahu bahwa tidak ada niat jelek, tidak ada keinginan untuk memusuhi, menghina, apalagi menjauhi mereka. Kalau saya “sumbang” itu karena “namanya juga nisa, suka gitu dia mah!”

Mohon maaf teman-teman, mungkin intensitasnya suka berlebihan. Terima kasih atas kesabarannya :)

Ketiga, dan yang menjadi alasan kuat mengapa saya annoying adalah karena saya memang tidak mau diam saja. Saya belajar bahwa pada mulanya orang bercanda urusan rasisme, lalu setelahnya pengalaman personal mereka dipercaya sebagai kebenaran yang dapat digeneralisasi, dan demikian seterusnya sampai pandangan-pandangan yang mendiskreditkan dan mendiskriminasi sekelompok orang lestari, diamini oleh satu sama lain tanpa ada pandangan berbeda atau counter-narrative yang menantang argumen orang tadi.

I’ll be the most annoying friend ketika obrolan sahut-menyahut saling dukung tentang keburukan suatu ras, misalnya tentang Chinese Indonesians.I’ll jump to the group with an alarm, biasanya dengan bilang: racism detected.

Saya ngga basa-basi waktu bilang ke teman-teman di media sosial bahwa saya stand up against racism, bahwa saya tidak mau jadi bystander. Dan sekecil-kecilnya usaha saya untuk konsisten adalah dengan berani sumbang di kalangan teman sendiri.

Ngeri juga, takut kehilangan teman. Don’t get me wrong, I am afraid they’ll leave me! Tapi gimana ya, namanya juga perjuangan *apa iya segini aja bisa dianggap perjuangan hehehe

I’ll win the trophy of the most annoying friend setelah throwing the words: “sexism detected!” Ketika stereotip tentang perempuan dianggap normalitas. Bertahun-tahun saya harus hidup dengan bias-bias gender yang tidak cukup menguntungkan saya sebagai perempuan. Kali ini saya tidak mau diam saja. Kali ini saya bertekad, jangan ada lagi perempuan-perempuan yang megalami dampak bias gender serupa. Dan salah satu cara mematahkan tradisi ini adalah dengan menyadari, baik mengingatkan diri sendiri dan mengingatkan orang lain juga, bahwa ada bias-bias gender dalam pembicaraan dan canda kita. I’ll do it, I am willing to spot the sexist statements.

I’ll be the party pooper di tengah-tengah canda tentang tubuh perempuan yang bernuansa misogynistic. Kalau saya lakukan itu di teman-teman dekat, apalagi dikalangan orang-orang yang berjarak agak luar dari lingkaran kecil saya, tidak jarang saya tampil menyebalkan, seperti perempuan yang dianggap “nenek sihir, bossy, sensitif maklum perawan tua” itu. Biasanya saya lantas menjawab, “you have a daughter, was her face in your head when you made that joke?”

You probably hate what I do, sorry for being a super annoying friend. But if it helps you reflect upon your perspectives about women, Chinese Indonesians, minority groups, ngga apa-apa lah, I’ll take the risk. I’ll do it again.

Tiap tahun baru saya membuat resolusi. Baru tahun ini saya merasa cukup sukses mengingat resolusi saya setidaknya sampai September ini:

Jalani hidup bukan untukmu saja, bukan tentangmu saja. So live like you have nothing to worry, walk like you have nothing to fear, speak like you have nothing to hide.

My Multicultural Self

*Judul ini saya copy dari sumber rujukannya, di sini. Tulisan ini saya buat di tahun 2010, dalam rangka berbagi tentang cara mengajarkan toleransi untuk anak-anak sampai mahasiswa.
Ini adalah kegiatan di mana (maha)siswa saling berbagi tentang identitas dirinya. Kegiatannya sekilas nampak seperti saling memperkenalkan diri pada saat pembukaan suatu workshop atau tahun ajaran baru, namun sebenarnya inti dan tujuan kegiatan ini jauh lebih mendalam. Saat perkenalan, biasanya seseorang sekedar menyebutkan namanya, atau kalaupun ditambahkan dengan informasi lainnya, biasanya yang bersifat informatif saja. Sementara kegiatan ini dirancang untuk membantu siswa mengenal identitas temannya, dan yang lebih penting: mengeksplorasi identitas diri mereka masing-masing secara lebih reflektif.
Kegiatan ini saya ambil dari website ini (bahkan handout untuk kegiatan inipun bisa didownload gratis di sana) dan sudah pernah saya terapkan bersama mahasiswa fakultas pendidikan semester tiga.
Kegiatan ini cocoknya untuk siswa kelas berapa?

Karena saya dosen, saya hanya berkesempatan untuk menerapkan aktivitas ini di level perguruan tinggi. Tetapi saya sepakat dengan “Teaching Tolerance“, organisasi yang membagi metode ini, bahwa pada dasarnya kegiatan ini dapat dilakukan di berbagai tingkat pendidikan walaupun tentunya tingkat kedalaman diskusinya akan berbeda-beda sesuai dengan kemampuan siswa. Di sini saya ingin berbagi tentang bagaimana kegiatan ini dilakukan di level mahasiswa, yang mungkin masih cukup relevan untuk diterapkan juga di tingkat SMA.

Apa manfaat kegiatan ini, sebenarnya?

Kemampuan seseorang untuk hidup bersama, menerima kehadiran orang lain yang mempunyai latar belakang agama dan budaya berbeda, serta kemampuan toleransi perlu diawali dengan kesadaran seseorang tentang siapa dirinya, dan kemampuan untuk mengkomunikasikan identitas dirinya. Kegiatan ini dirancang agar siswa peka dengan dirinya dan dengan identitas teman-temannya. Bahkan melalui kegiatan diskusi, siswa juga dapat memahami konflik yang terjadi akibat kekeliruan, ketidakpekaan dalam mengenal dan menilai dirinya dan teman-temannya.

Kegiatan ini bermanfaat untuk mempelajari bagaimana identitas budaya kita bersifat majemuk dan dinamis, yang bisa berubah dan berbeda-beda mengikut dimensi ruang dan waktu.

Bagaimana kegiatan ini dilakukan?

Ada handout-nya. Namun sebelum siswa mengisi handout, sebaiknya guru memberikan contoh bagaimana cara mengerjakannya. Selain supaya siswa mengerti apa yang harus mereka lakukan, guru juga perlu menjadi model dalam aktivitas ini. Tidak semua siswa merasa aman dan nyaman dalam mengungkapkan diri mereka. Rasa takut ditertawakan dapat membuat siswa enggan melakukan kegiatan ini. Maka apabila guru memulai dengan menceritakan sedikit tentang identitas mereka, suasana bisa lebih terbuka, siswa dapat lebih nyaman untuk berbagi, dan merasa aman bahwa dirinya tidak akan dihakimi atau dilecehkan.

1. Mengisi handout

screen-shot-2012-06-08-at-9-33-24-am.pngDengan menggunakan handout semacam ini, atau menggunakan kertas kosong, setiap siswa menuliskan namanya, dan di dalam bubble talks mereka menuliskan identitas mereka satu persatu.

Perlu diingatkan bahwa yang ditulis adalah identitas sosial-budaya mereka, bukan ciri-ciri fisik mereka. Jadi mereka tidak boleh menulis “berambut panjang”, atau “bertubuh pendek”.

Siswa boleh menulis identitas yang mereka anggap melekat dengan kepribadian mereka, yang mempengaruhi cara mereka berpikir, bersikap, dan berperilaku; dengan kata lain: budaya mereka.

Siswa sebaiknya menulis sendiri-sendiri tanpa diskusi dengan temannya. Berikan waktu untuk mereka menentukan 4 atau 5 identitas yang dianggapnya paling penting. Setiap individu sangat mungkin punya dalam lebih dari 5 bubble talks, namun siswa menulis 4 atau 5 yang dianggapnya paling penting, yang dapat menjelaskan: siapa dirimu sebenarnya, mengapa kamu melakukan apa yang kamu lakukan, berpakaian seperti itu, bicara dengan gaya seperti itu, makan makanan yang seperti itu, dan seterusnya.

2. Diskusi reflektif berpasangan

Setelah selesai, siswa diminta untuk melakukan refleksi dengan cara berdiskusi dengan temannya (berpasangan) dan saling berbagi. sebelum kegiatan ini dilakukan, guru perlu memberi contoh apa yang dibahas dalam diskusi ini.

Sebenarnya diskusi ini bisa saja dilakukan langsung bergantian, didengar oleh seisi kelas. tetapi berdasarkan pengalaman saya, agak sulit meminta satu siswa berbicara dan seluruh kelas memperhatikannya. mungkin malu, cemas, dan sebagainya. sehingga sebagai “pemanasan”, saya meminta mereka sharing bersama teman saja dulu.

Di kelas, saya menceritakan isi bubble talk yang sudah saya buat dan sudah saya perlihatkan kepada mahasiswa sebelumnya. saya sampaikan kepada seluruh kelas bahwa kurang lebih hal-hal inilah yang perlu mereka sampaikan kepada teman mereka:

  • Identitas mana yang  dianggap paling penting atau justru paling tidak penting. saya memberi contoh: “saya sering mengabaikan diri saya sebagai seorang perempuan karena dalam banyak situasi saya memang merasa ngga penting mau laki-laki atau perempuan, kita kerja sama-sama…”
  • Identitas yang sering berbenturan satu sama lain. contoh: “di satu sisi saya ini seorang istri, punya suami, dan banyak urusan rumah tangga yang harus saya pikirkan. Tapi saya juga seorang dosen, harus mengerjakan tugas-tugas profesional juga, jadi suka stress dengan peran-peran ini.”
  • Identitas yang sering diabaikan orang lain, dan hal tersebut membuat saya tidak nyaman (marah, sebal). Yang saya ceritakan ke mahasiswa adalah: “kadang saya suka sedih karena kalau saya mengajar atau mengerjakan tugas di hari Sabtu, ada orang-orang yang menegur saya: ‘jangan kerja melulu, urus suaminya!’ mereka lupa bahwa saya juga dosen yang kadang-kadang memang menuntut saya bekerja seperti itu.”

Setelah mereka berbagi dalam kelompok kecil, persilakan untuk berbagi kepada seluruh siswa di kelas.

3. Diskusi kelas

Diskusi ini dipandu oleh guru dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini (dan pertanyaan-pertanyaan di nomor 2 juga bisa diulang kembali untuk diskusi kelas):

  • Apakah sebenarnya kamu ingin menulis lebih dari 5 identitas? – pertanyaan ini relevan karena secara alami setiap individu memang memiliki banyak identitas. Sulitkah kamu menentukan 5 identitas dirimu?
  • Bagaimana perasaanmu ketika orang lain mengabaikan salah satu bubble talk yang menandakan identitasmu itu?
  • Bagaimana perasaanmu bila orang lain memintamu menghilangkan salah satu identitas budayamu?
  • Sekarang bayangkan salah satu identitasmu tersebut hilang atau berubah. apakah menurutmu cara hidupmu, cara berpikirmu juga akan berbeda? misalnya kamu bukan seorang mahasiswa, maka apakah caramu menilai isu korupsi akan berbeda?
  • Suatu saat nanti apakah identitas yang kamu tulis di dalam bubble talk tersebut akan berubah? misalnya kamu akan menulis profesimu?
  • Sekarang lihat bubble talk temanmu. Adakah yang harusnya ia tulis tapi tidak dilakukannya? Atau sebaliknya, apakah ada yang seharusnya tidak ia tulis? Ada yang mengagetkan atau kamu bisa menebak apa yang temanmu tulis tentang identitas dirinya?

Dari diskusi tersebut, siswa bisa diajak untuk berefleksi lebih mendalam tentang “the golden rule” , yaitu “perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.” Guru dapat mengajak siswa untuk menyadari, apakah pernah mereka mengabaikan identitas orang lain?

Salah satu mahasiswa mengaku bahwa ia pernah merasa kesal karena temannya sulit diajak mengerjakan tugas bersama: “setiap diajak berdiskusi, ia selalu tidak bisa.” Mahasiswa itu mengaku bahwa ia tidak ngeh bahwa temannya itu sepulang kuliah harus bekerja karena ia berasal dari keluarga kurang mampu yang menuntutnya demikian.

Lewat kegiatan ini, kami juga menyadari bahwa tidak cukup mengenal seseorang hanya berdasarkan satu identitasnya saja. Mahasiswa saya, seorang perempuan, berbagi cerita tentang temannya yang mudah menangis apabila menonton film. “Saya bilang sama dia, jadi perempuan tidak boleh cengeng. Harus kuat! Kamu nonton film aja bisa nangis begitu sih!” Dan mahasiswa saya terkejut karena ia baru tahu bahwa film tersebut mengingatkan temannya itu pada ayahnya yang meninggal dunia karena kecelakaan seperti yang digambarkan di film. “Saya cuma menilai dia dari sisi perempuannya saja, saya tidak tahu bahwa ia seorang yatim…” ujar mahasiswa saya di kelas. “Itu ngga fair,” ujarnya reflektif.

Saya menutup kegiatan ini dengan kesimpulan yang disepakati bersama: bahwa cara kita memandang dan menilai sesuatu, cara kita hidup, sangat dipengaruhi oleh cara  kita memandang identitas diri kita sendiri dan orang lain. Identitas tersebut bisa berubah, bertambah ataupun berkurang; dan perubahan ini akan mempengaruhi pemikiran dan cara hidup kita juga. Dan akhirnya, apabila kita berharap orang lain memahami diri kita dengan identitas yang utuh, rasanya adil juga apabila kita berusaha melakukan hal yang sama terhadap orang lain.

Semoga berguna, dan selamat mencoba mempraktekkannya :)

A man (I) called A social justice warrior

fullsizerender

A woman who is curious about stuff is learning from A Man Called #AHOK

Bukan kisah hidup yang diawali dari masa kecil yang susah, keluarga miskin, lalu gigih berusaha hingga menjadi pemimpin dan ternama. Bukan, itu bukan kisah hidup Pak Ahok. Tanpa drama yang dibesar-besarkan, @kurawa menulis bahwa A Man Called #Ahok ini lahir dari keluarga pengusaha yang cukup mentereng di Belitung.

Tidak ada tantangan yang berarti baginya untuk mendapatkan pendidikan. Tapi being born with silverspoon bukan berarti Ahok muda tidak diajarkan kepekaan tentang privilege yang dimilikinya.

Tidak tahu berapa banyak orangtua yang mengajarkan hal yang sama, tapi cara Ayahanda Pak Ahok mengajarkan tentang keadilan sosial memang penting sekali untuk disorot:

@kurawa mengutip teguran ayahnya Pak Ahok. Padahal prestasi belajar Pak Ahok sudah tinggi, namun sang Ayah bukannya puas begitu saja pada kecerdasan anaknya, ia malah mengingatkan: “Hok, kamu bisa pintar karena gizi, istirahat, dan waktumu cukup. Sebenarnya kalo temen-temenmu sama kaya kamu hidupnya, kamu pasti kalah.” (p.46).

Nasehat Ayah & Kebijakan Pendidikan

Ucapan tersebut terus menerus ayahnya ucapkan sampai menginspirasi Pak Ahok ketika ia menjabat sebagai pemimpin. “Pemerataan pendidikan! Pembangunan Sekolah! Beasiswa! Sekolah murah, sekolah gratis!” Kalau itu “janji”nya Pak Ahok, kedengerannya akan sama saja ya dengan yang lainnya. Tapi harus diakui bahwa framework atau cara pandang Pak Ahok ketika merumuskan masalah pendidikan lebih komprehensif, dan menurut @kurawa ucapan yang tertanam sejak Ahok muda itulah yang membedakannya.

Pak Ahok melihat masalah dalam pemerataan pendidikan tidak sebatas pada membangun sekolah dan fasilitasnya, tidak melulu pada urusan kualitas guru, dan faktor proses belajar di sekolah lainnya. Pak Ahok juga memperhatikan kesiapan anak/remaja untuk belajar di sekolah, dan termasuk dalam kesiapan ini adalah kesiapan gizi. Maka KJP boleh digunakan untuk bahan pangan, bukan hanya untuk alat tulis, buku, dan keperluan sekolah lainnya. Bahkan untuk memastikan agar bahan pangan terjangkau, masyarakat juga punya kesempatan untuk membeli daging murah di pasar-pasar. Ahok memperhatikan masalah kesenjangan pendidikan yang terjadi di luar gerbang sekolah. Bahkan tempat tinggal (rumah susun) pun dirancang dengan mempertimbangkan ruang yang layak untuk tumbuh kembang anak dan remaja.

Kepekaan Sosial

@kurawa juga menceritakan bahwa Ahok muda bergaul dengan teman-temannya dari kelas sosial yang berbeda, yang cenderung menengah bawah. Bisa jadi ini juga yang membuat Ahok peka sosial, sadar bahwa setiap manusia, mau kaya atau miskin, punya harga diri.

Dalam kampanyenya (eh apa dalam debat ya, saya kurang pasti), Pak Ahok menyebut bahwa dengan KJP anak-anak dapat menggunakan sepatu yang baik ke sekolah. Katanya, hal ini penting untuk harga dirinya, mereka tidak malu pakai sepatu butut. Menurut saya pernyataan ini menunjukkan kepekaan sosial yang baik, bahwa harga diri bukan saja dimiliki masyarakat kelas menengah, tapi milik semua orang. Saya sangat tidak nyaman ketika dulu ada Bantuan Langsung Tunai yang diberikan dengan cara yang tidak memikirkan harga diri rakyat miskin karena harus berdesakan, berebutan, seolah-olah mereka sah-sah saja diperlakukan demikian (“udah untung dikasih bantuan!”). Lalu ada juga sedekah yang diberikan oleh orang kaya dengan cara menebarkan uang dari mobil mewahnya, sementara fakir miskin harus mengejar-ngejar, rebutan memungut uang di jalan. Sementara KJP, bukan saja penyaluran dana sudah jauh lebih terorganisir, tapi penggunaannya pun bisa gesek langsung seperti pengguna kartu kredit. Bermartabat, dan digunakan untuk meningkatkan martabat juga.

Mendidik Kepekaan Sosial adalah Langkah untuk Keadilan Sosial

Walau tidak diceritakan @kurawa, saya agak yakin kalau Ayahanda Pak Ahok tidak pernah memotivasi anaknya dengan ucapan, “Ayo belajar yang bener, biar kamu ngga jadi orang miskin seperti mereka!” sambil menunjuk pedagang asongan atau pengemis.

Saya suka kecewa kalau tahu masih ada orangtua yang memotivasi anaknya seperti itu. Apa iya orang jadi pedagang asongan karena malas? Yakin  bahwa itu bukan karena ia tidak mampu sekolah? Ataupun kalau sekolah, yakin kalau itu bukan karena ia kalah bersaing denganmu untuk masuk PTN yang bayarannya lebih murah, karena kamu lulusan sekolah mentereng sementara di sekolahnya guru sering absen dan buku pelajaran tidak lengkap halamannya?

Yakin bahwa ia tidak lebih “pintar” darimu karena sebelum ujian kamu bisa belajar dengan tenang di rumah dengan guru privatmu sedangkan ia harus meneruskan harinya dengan bekerja membantu orangtua?

Memotivasi anak seperti itu tidak akurat, tidak benar. Apalagi sistem pendidikan negara kita yang masih belum benar-benar memberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sejak awal masuk sekolah, dua anak dari kelas sosial yang berbeda sudah berdiri di “garis start” pendidikan yang berbeda.

We need future generation yang peka dengan masalah sosial, yang peduli dan mampu menjawab masalah-masalah sosial di negeri ini, semoga ortu dan guru sepakat akan hal ini. Dan semoga sepakat juga bahwa oversimplifing social problems adalah musuh dari social justice. Nah, jika orangtua ingin anak-anak mereka punya kepekaan sosial dan kelak menjadi pemimpin yang disayang rakyat/bawahan/karyawan mereka, maka mulailah membahas pentingnya pendidikan mereka untuk mengubah kondisi sosial, misalnya: “kamu harus belajar yang rajin, kelak kalau jadi dokter, kamu bisa bantu banyak orang yang kesulitan biaya berobat.”

Dan pastinya gaya mendidik yang dilakukan ayahanda Pak Ahok di atas bisa jadi contoh metode yang sangat powerful untuk membangun kepekaan sosial anak-anak didik kita.