FDS & Kesenjangan Akses Pendidikan

Pertanyaan saya ketika membaca berita tentang Full Day School (FDS) adalah: “untuk siapa ia dirancang?”

Sebelum menjawabnya, saya mau merujuk pada tujuannya dahulu. FDS, menurut Muhadjir, dirancang untuk meningkatkan efektivitas pendidikan termasuk pendidikan karakter dan etika dengan alasan guru akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai karakter apabila waktu anak di sekolah diperpanjang.  Sampai sini saya menangkap kesan bahwa Muhadjir  berasumsi sekolah, bukan rumah, adalah tempat yang lebih efektif untuk membangun karakter.

Asumsi tersebut tidak universally salah, walaupun ia mengundang banyak kritik khususnya dari orangtua yang merasa dilecehkan kemampuannya untuk  mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral di rumah. Artinya, bisa jadi memang model sekolah ini membantu sebagian keluarga di tanah air.

Jika kita merujuk pada data, bisa jadi ada orangtua yang terbantu dengan konsep pendidikan seperti ini. Dari survei keluarga Indonesia di beberapa provinsi di Indonesia Timur, sebagian besar anak-anak usia 7 sampai 14 tahun mempunyai orangtua dengan pendidikan tertinggi SMP. Para orangtua dengan tingkat pendidikan tersebut mengalami kesulitan untuk membantu anak belajar di rumah karena tidak mengerti isi pelajarannya. Mereka juga tidak punya waktu untuk menemani anak belajar, terutama karena jadwal pekerjaan mereka tidak teratur seperti halnya karyawan di kantor-kantor.

Selain itu, penelitian di banyak negara juga cukup konsisten menunjukkan bahwa keluarga dan lingkungan tempat tinggal atau pergaulan di luar sekolah adalah faktor penting yang menjelaskan gap prestasi belajar antara anak-anak dari kelas menengah/menengah atas dan anak-anak dari kelas sosial yang lebih rendah. Annette Lareau, seorang sosiolog pendidikan menjelaskan bahwa di konteks Amerika Serikat, anak-anak dari keluarga kelas menengah dan menengah atas memberikan “suplemen” belajar seperti kursus bahasa asing, les seni, kegiatan membaca buku, dan lain-lain pendukung pendidikan yang sulit diakses oleh kebanyakan anak-anak dari kelas bawah. Sangat mungkin fenomena ini juga terjadi di Indonesia.

Untuk konteks di atas, FDS ini berpotensi untuk jadi solusi masalah inequality dengan cara menyediakan berbagai kegiatan termasuk ekstrakurikuler yang sebelumnya sulit diperoleh anak-anak dari kelas bawah. Namun demikian harapan akan adanya kesetaraan akses pendidikan tersebut terguras ketika Mendikbud melanjutkan penjelasannya dan menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang harus dibayarkan orang tua untuk FDS ini.

Jika iuran dan sumbangan (baca: uang) sudah menjadi variabel dalam kualitas pendidikan, sulit untuk berharap bahwa FDS ini dapat memperkecil gap antar kelas sosial dalam mengakses pendidikan yang berkualitas.

Disamping itu, beranggapan bahwa semakin lama di sekolah (atau semakin sedikit waktu senggang di lingkungan rumah) semakin banyak anak belajar adalah asumsi yang terlalu menyederhanakan kompleksitas proses belajar. Dengan kata lain asumsi tersebut lemah. Alasan rendahnya tingkat pendidikan orangtua seringkali digunakan oleh pendukung model sekolah sejenis ini. Mereka berargumen bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu dan tinggal di lingkungan yang kurang kondusif perlu dimasukkan ke sekolah full day. Sekolah kemudian menjadi sebuah “inkubator” bagi anak-anak ini agar mereka dapat tumbuh kembang tanpa terkontaminasi hal-hal yang menyimpang dan kontraproduktif dengan pendidikan mereka. Namun hasil kajian-kajian yang mengukur efektivitas model sekolah ini masih belum cukup konsisten dan meyakinkan untuk menunjukkan bahwa model tersebut berhasil. Sebaliknya, sekolah-sekolah ini tidak cukup menyiapkan anak-anak untuk hidup di dunia nyata.

Maka untuk siapa dan untuk apa sebenarnya FDS ini dirancang? Tidak pasti, namun saya cukup yakin bahwa model sekolah ini tidak dirancang untuk anak-anak miskin dan mereka yang berada di wilayah 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal) yang sebenarnya menjadi prioritas pembangunan pendidikan Indonesia. Ada dua alasan mengapa saya beranggapan demikian. Pertama dan yang paling mudah adalah merujuk pada pernyataan Mendikbud bahwa ketika anak pulang sekolah jam 5 sore, ia akan segera bertemu orangtuanya yang juga pulang kantor pada jam tersebut. Jelas bahwa FDS bias kota, dirancang untuk menyelesaikan masalah berkaitan dengan pola hidup di perkotaan, khususnya masyarakat kelas menengah yang bekerja di kantor sampai jam 5 sore.

Alasan kedua, disain FDS tidak berpihak pada anak-anak miskin yang seringkali harus mengorbankan kesempatan sekolah demi membantu keluarga mencari nafkah. Jika jam belajar “normal” saja sudah menyulitkan mereka, maka apalagi harus sehari penuh di sekolah; bagaimana mereka dapat bekerja? Anak-anak di wilayah 3T dan pedesaan masih banyak yang harus belajar di sekolah-sekolah yang minim akan fasilitas dan sumber belajar serta kekurangan guru dengan kualifikasi yang sesuai. Sementara di pinggiran kota, sebuah gedung sekolah dan fasilitasnya termasuk guru harus digunakan secara bergilir oleh siswa yang sekolah pagi dan sore. Maka disain FDS tidak dapat menjadi solusi yang relevan dengan kondisi dan tantangan-tantangan yang harus dihadapi siswa dan juga sekolah yang melayani anak-anak miskin. Sebaliknya, FDS berpotensi menjadi beban baru bagi sekolah-sekolah tersebut.

Saya fokus pada rencana FDS dan korelasinya dengan masalah kesenjangan akses pendidikan karena masalah ketidaksetaraan ini merupakan satu agenda besar Republik ini. Di samping itu, kesenjangan akses pendidikan di Indonesia tidak terjadi secara kebetulan tapi sistemik, berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagaimana yang dilaporkan Bank Dunia tahun 2015, meskipun anak-anak di pedesaan khususnya di Kawasan Indonesia Timur mengakses pendidikan dasar, namun rata-rata hasil belajar mereka belum dapat menyamai teman-teman mereka di perkotaan dan di wilayah Indonesia Barat karena lemahnya infrastruktur dan kualitas proses belajar.

Akses pendidikan dasar yang “gratis” serta Program Indonesia Pintar dirancang untuk menjawab masalah kesenjangan ini, namun sayangnya FDS tidak beriringan dengan kedua kebijakan tersebut.

Ma man!


Suami saya. Berfoto di museum Tea Party, bersama satu quote yang diucapkan isteri John Adams, tokoh penting dalam revolusi AS menentang tirani Inggris. Ujar Ibu Abigail, “jika kita ingin mempunyai pahlawan, politikus, dan filsuf, maka kita perlu mempunyai perempuan-perempuan yang terpelajar.” Pada eranya, profesi-profesi tersebut masih banyak dikuasai laki-laki (sekarang masih ngga?) tapi bukan itu yang saya mau ceritakan di sini.

Suami saya spontan minta difoto bersama quotes ini, sebelum saya benar-benar baca isinya. Suami saya juga suka lebih dulu ngeh kalau ada hal yang bias gender baik mendiskreditkan perempuan ataupun laki-laki.

Suatu hari kami sedang mengantri kasir di supermarket. Di kanan-kiri kami terpajang majalah-majalah termasuk majalah yang ditargetkan untuk konsumen perempuan. “Liat deh,” kata suami saya, “kenapa juga headlines-nya harus urusan kosmetik dan urusan bentuk badan semua,” ia menunjuk beberapa majalah. “Kenapa ngga ngebahas perang atau politik sama sekali? Emang ngga bisa apa ya bahas politik dari angle perempuan?”

Suami saya adalah orang pertama yang mengingatkan saya bahwa mahasiswa adalah mahasiswa, mau laki atau perempuan, tanggung jawab mahasiswa adalah belajar, berpegal-pegal duduk membaca dan menulis. Maka jangan jadi beban jika tidak bisa memasak atau tidak sempat mencuci pakaian. Ia tidak pernah mengaitkan prestasi kuliah dengan jenis kelamin.

Ia paham dan mengakui bahwa setiap orang mempunyai identitas yang majemuk. Saya seorang mahasiswa, asisten penelitian, istri, dst.; yang seringkali mengalami konflik peran. Menyadari hal itu, suami saya tidak pernah berhenti membantu untuk menentukan prioritas: “aku bisa ngobrol dan makan-makan sama kamu kapan aja, tapi diskusi soal disertasi dengan teman-temanmu lebih mendesak,” ujarnya.

Suami saya tidak peduli apakah dia feminis. Yang dia fokuskan adalah “how to get things done.” Mau saya atau dia yang kerjakan, tidak penting baginya. Selama piring tercuci, makanan tersedia, dan proses kuliah saya jalan dengan aman, itu cukup. Maka kami tidak peduli dengan “peran istri, peran suami” yang kaku dan statis.

Tidak pernah bosan saya bilang ke teman-teman dan keluarga, bahwa PhD yang saya raih ini tidak akan terjadi jika suami dan saya masih sibuk memikirkan “peran-peran” yang membatasi cara kami berpikir dan berperilaku. Tidak akan terjadi jika suami saya tidak berpikir progresif.

“Behind every success woman…” Nope. Not just behind. Saya tidak pernah lupa moments di mana ia justru harus di depan, menarik semangat saya untuk bangun lagi, menerabas lagi layers of fears dan putus asa; saat ia harus berada di samping saya, lengkap dengan madu, teh, larutan cuka apel, vitamin, yang ia jejerkan di sela-sela tumpukan kertas dan layar laptop. Dan ketika di belakangpun, ia bukan mengikuti saya melainkan menyiapkan jaring pengaman ketika saya berkali-kali ambruk.

kesempatan pendidikan

Educational opportunities atau kesempatan dalam mendapatkan pendidikan adalah payung besar topik disertasi saya. Biasanya kalau ditanya teman dalam lift atau sambil ngantri di kantin, jawaban saya selalu “it’s about educational opportunities for primary school children in eastern Indonesia.” Dan dari situ biasanya berkembang ke arah yang berbeda-beda, ada yang lebih tertarik dengan sumber data, ada yang bertanya tentang metode analisis data, dsb. Di sini saya ingin fokus pada istilah “kesempatan pendidikan” ini.

Di paragraf terakhir di bab terakhir disertasi yang baru saya submit, tertulis begini (kira-kira dalam bahasa Indonesia):

“…kajian ini menguatkan argumen tentang pentingnya mengatasi masalah kesenjangan dalam kesempatan pendidikan anak-anak di Indonesia, khususnya Indonesia Timur. Menggunakan istilah ‘kesempatan’, kajian ini menunjukkan bahwa belajar tidak terbatas pada urusan kemampuan individu (learning ability) tetapi ada faktor-faktor diluar kuasa anak yang signifikan berkaitan dengan kemampuan kognitif mereka…”

Dalam disertasi saya, faktor-faktor tersebut adalah latar belakang keluarga dan lingkungan tempat tinggal mereka. Sebagai contoh, salah satu variabel, yaitu tingkat pendidikan orangtua, berkorelasi secara signifikan dengan hasil tes kognitif anak, dan efek pendidikan orangtua ini berbeda di lingkungan (villages atau kelurahan) yang berbeda.

“…Karena anak-anak mempunyai kesempatan berbeda-beda, maka perbedaan hasil tes (dalam hal ini tes kemampuan kognitif) tidak seharusnya disempitkan interpretasinya pada kemampuan dan upaya anak dalam belajar, namun hasil tes ini menginformasikan kondisi dan kesempatan pendidikan yang berbeda-beda. Interaksi antara faktor sekolah, rumah, dan lingkungan tempat tinggal sebagaimana yang ditunjukkan dalam disertasi ini mengindikasikan bahwa tidak hanya faktor sekolah tetapi juga faktor luar sekolah memiliki peran yang penting dalam memberikan kesempatan belajar dan dalam mendorong perkembangan kognitif anak-anak.”

Mengapa saya ngomongin soal topik disertasi saya? Ngga ada yang lebih menarik ya?! ;) 

Menulis disertasi tentang “kesempatan” selama setahun lebih ini membuat saya merasa bahwa pendidikan yang saya dapat tidak lain adalah suatu kesempatan, bukan semata-mata karena usaha saya sendiri. Ini adalah suatu kesempatan yang saya dapat karena banyak faktor-faktor yang mendukung.

Dosen pembimbing saya bilang, “it’s a privilege.” Sebuah keberuntungan, kesempatan spesial yang tidak terjadi pada banyak orang. Tentu dia tidak sembarangan menggunakan kata privilege karena ia tahu masih banyak perempuan usia tigapuluhan di negara berkembang yang harus struggle untuk mendapatkan hak-hak yang mendasar, termasuk hak dalam pendidikan.

Lalu saya merespon dosen saya tersebut, “I know. Saya sadar betul  bahwa saya lahir di kelas menengah, orang tua saya menanamkan nilai-nilai tentang pendidikan yang kuat, saya menikmati pendidikan swasta yang relatif baik dan mendapat jalur khusus untuk kuliah di perguruan tinggi negeri, mendapatkan bantuan kuliah S2 dan beasiswa S3, mendapat dukungan dari suami, seniors dan kolega… I always remember people who have contributed to my education.”

Dosen saya merespon, “I know you are aware of it. Kamu sadar bahwa kamu punya kesempatan untuk bisa di sini, mencapai semua ini. Bukan cuma sadar secara individual bahwa kamu didukung banyak pihak, tetapi secara profesional kamu tahu bahwa ada sistem yang mendukung atau menghambat kesempatan pendidikanmu. Namun sekarang, selain berterima kasih pada mereka, pikirkan apa yang dapat kamu lakukan dengan ilmu pengetahuan ini.”

Dan dosen saya tersebut melanjutkan dengan nasehat yang tidak ingin saya lupakan, maka saya tulis di sini:

“When you’re aware that it’s a privilege, kamu tahu bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama. Mereka belajar di tempat lain, memberimu ilmu yang lain, yang tidak kamu dapat di sini. Maka belajarlah dari mereka. Bukan sekedar mendengarkan karena kamu menghargai orang bicara, tapi dengarkan karena kamu tahu bahwa itu adalah kesempatan kamu belajar dari mereka. You are trained to be a researcher, use the skill.

Kedua, be kindYou’ve got great educational opportunities here. Sekarang kamu punya gelar, kamu akan berada di satu kondisi dan posisi di mana mereka akan look up to you. Stop saying that you don’t wish to be there, because you have to be there! Kamu akan berada di posisi di mana orang berharap kamu menggunakan ilmu pengetahuanmu untuk membantu mereka, menyelesaikan masalah, mencari jalan keluar. Maka be kind ketika mengaplikasikan ilmu pengetahuanmu. Mereka tidak mendapatkan special opportunities seperti kamu, jadi jangan hakimi, hujat, atau salahkan mereka. Niatkan untuk membantu, jangan niatkan untuk mengkritik semata. Niatkan untuk bekerja sama, jangan niatkan untuk menunjukkan bahwa kamu lebih tahu dan orang tidak mampu menggapai pengetahuanmu yang tinggi.

So be kind. Kamu akan tergoda untuk mematahkan argumen, mengkritik habis kebijakan, dan menghabiskan waktumu untuk menjadi yang paling benar. Hati-hati akan godaan akademia yang seperti itu. Kamu akan disibukkan dengan hal-hal yang tidak terlalu penting dalam membuat perubahan, sebagaimana yang kamu cita-citakan. You know you can’t do it all alone; and to work with people, don’t you think you need to be kind?” 

Lalu kami membahas beberapa tips untuk melatih diri supaya saya menjadi scholar yang baik :) Betapa beruntungnya saya mendapatkan guru seperti dosen saya ini. Mendapatkan pendidikan yang seperti ini.

Ketika kita tahu pendidikan yang kita raih, ilmu yang kita dapat, dan kemahiran yang kita kuasai adalah buah dari kesempatan yang orang, institusi, dan lingkungan berikan pada kita, maka tidak sulit memahami mengapa kita berbagi dan memberi kesempatan pendidikan pada sesama, kan?

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016.

kalau mau tanya kabar, gunakan “apa kabar?”

Beberapa hari yang lalu kami berhasil kontak teman lama yang sudah kami anggap keluarga. Sudah bertahun-tahun tidak ngobrol karena mereka tinggal di daerah pedesaan di tanah air, yang dulunya sulit dapat koneksi internet. Suara mereka terdengar excited, maklum mereka menganggap suami saya seperti anak kandung.

“Kabarmu dan Nisa piye, udah ada anak?” tanya teman kami dengan nada penuh rindu.

Apik,” jawab suami saya. “Belum ada, masih ngantri,” jawabnya asal penuh canda.

Kami sudah sering ditanya seperti itu. Apa karena sudah terbiasa makanya saya tidak marah, ngga tau juga. Tapi mungkin karena kami berdua merasa secure dengan hidup kami yang bergejolak ini (hahaha the ups and downs of husband and a graduate student), saya sama sekali tidak tersinggung. Sebaliknya, saya geli sendiri mendengar respon spontan saya dalam hati:

“Setahun ngutek-ngutek urusan disertasi, bukannya ditanya progress disertasi malah tetep aja anak yang ditanya. Jangan-jangan selama ini aku fokus pada hal-hal yang ngga penting, nih.”

Saya bisa dan selalu mengerti perasaan sedih, marah, sakit hati pasangan yang terus menerus ditanya sudah punya anak atau belum, anaknya berapa, dst. Saya juga tidak segan menunjukkan keberatan saya jika belum apa-apa dituduh sengaja tidak mau punya anak, atau menunda karena lebih mementingkan kuliah atau karier. Masalahnya bukan benar tidaknya tuduhan itu, tetapi karena (1) menuduh – bukannya bertanya baik-baik, adalah perilaku yang menyebalkan, dan (2) berasumsi bahwa setiap orang harusnya atau pastinya mau punya anak adalah asumsi yang sempitberanggapan bahwa apa yang saya harapkan pasti juga menjadi harapan orang lain.

Malam itu saya justru seperti mendapat pencerahan tentang jawaban untuk pertanyaan “kenapa ya orang Indonesia (yang saya kenal) seringkali dan terus-terusan nanya soal anak?” yang seringkali dianggap sebagai pertanyaan menyebalkan.

Dugaan saya, pertanyaan itu, dengan konteks spesifik kami alami malam itu (yaitu sahabat lama yang bertahun-tahun ngga ngobrol), bisa jadi tidak ada maksud jauh selain: “How’s your life, are you guys happy, doing well? I miss you and I don’t want to miss great moments of your life!” ya, karena disampaikan dengan ramah, maka itulah yang terdengar di hati saya ketika ditanya soal anak (harus saya garis bawah soal ramah karena pernah juga dong saya dibilang “mau ke mana sih kuliah terus, karier terus. Anak kapan?” komentar ini cari gara-gara dan saya tanggapi lah dengan selayaknya).

Saya menginterpretasikan pertanyaan ramah soal anak sebagai bentuk “apa kabar” karena saya tahu bahwa dalam masyarakat Indonesia yang saya kenal, menyampaikan rasa rindu, sayang, dan rasa peduli akan kebahagiaan teman, anak, adik, saudara, bukanlah hal yang biasa dilakukan dan sulit mengungkapkannya karena tidak terbiasa.

Mungkin budaya kita tidak terbiasa mengungkapkan perasaan pada orang lain, kosakata kita sangat terbatas untuk mengungapkan perasaan, terlebih pada lawan jenis yang dianggap tidak pas untuk mengatakan rindu. Padahal sebenarnya saya dan suami tidak berpikir jelek kalau ada teman yang bilang begitu ke kita.

Lalu apa tujuan saya menulis ini? Ini bukan tentang saya saja, tetapi saya ingin berbagi saran saja, dari seorang yang ngga punya anak pada mereka yang punya anak:

Kalau kangen dan ingin tanya apa kabar saya, silakan to the point saja tanpa harus tanya soal anak. Silakan tanya ke saya dan suami, “Bagaimana hidup di Albany, betah?” atau “Kalian kedinginan ngga kalau winter?” atau “Kalian mengalami rasisme ngga di Amerika?” itu lebih baik daripada “Kok belum punya anak?” karena pertanyaan terakhir ini tidak bisa kami jawab dan tidak membawa acara temu kangen kita ke arah yang lebih menyenangkan.

Masalah punya anak itu urusan pribadi/rumah tangga, tapi jika sudah terlanjur bertanya “Sudah punya anak?” dan dijawab “Belum,” pesan saya adalah jangan merasa kasihan, jangan iba karena belum tentu mereka yang menikah ingin punya anak. Biasa-biasa aja, seperti yang saya alami berikut:

Saat ngumpul-ngumpul selepas menyelesaikan disertasi, teman kuliah saya tanya: “do you have a kid?”

Nope,” jawab saya.

Thinking of having ones?”

Yeah. One or two, maybe,” ujar saya santai.

“Then I hope you’ll have them,” balasnya tidak kalah relax.  

Biasa-biasa saja. Kalau mau mendoakan, maka doakanlah apa yang teman/saudara kita harapkan, bukan apa yang kita harapkan untuknya. Ini satu pelajaran yang akan saya bawa pulang dan terus saya coba terapkan sebagai upaya respect pada jalan hidup yang dipilih setiap orang.

Tulisan Zahra & Cultural Capital

Di sela-sela menulis disertasi, saya mau mengaitkan kejadian menarik ini dengan satu konsep yang saya sebut-sebut di disertasi: cultural capital.

Suami saya shared foto di bawah ini, tulisan yang disusun oleh anak dari teman kami. Usia Zahra 9 tahun, tetapi kami berdua selalu menikmati tulisan-tulisannya yang cukup sering dibagi oleh ayahnya. Dan untuk yang satu ini, suami saya cukup kaget karena foto ini going viral sampai di timeline banyak orang, yang ia sendiri tidak kenal. Dan seperti halnya foto-foto yang beredar di Facebook, berbagai komentar bermunculan.

12688000_10153355862177997_5559217747128515666_n.jpg

Zahra menginspirasi banyak orang lewat tulisan ini, itu jelas. Ia membuat kami yang sudah lebih dulu tumbuh dan berusia jauh di atasnya merefleksikan jalan hidup kami. Beberapa komentar merasa sedih karena orang tua mereka tidak sempat membaca tulisan Zahra, beberapa berbagi bahwa mereka kembali menemukan jalan untuk melakukan apa yang mereka minati sejak kecil, dan beberapa bersyukur karena sebagai orang tua, mereka terus melakukan apa yang Zahra sarankan.

Namun suami saya akhirnya “mengunci” foto tersebut karena banyaknya komentar-komentar yang bukan saja tidak sopan, tetapi juga tidak mencerdaskan siapapun. Atas dasar kebebasan berbicara mereka tidak peduli tata cara dalam bertutur dan itu sangat menyebalkan. Suami saya membatasi peredaran foto tersebut dengan pertimbangan jangan sampai Zahra dan ayahnya menjadi sakit hati membaca komentar orang-orang yang tidak menarik ini.

Komentar-komentar tersebut pada dasarnya menunjukkan rasa tidak percaya bahwa Zahra begitu cerdasnya mempunyai ide tulisan seperti itu. Kalau saya tidak pernah tahu tulisan-tulisan Zahra sebelumnya, serta kegiatan touring yang sering dilakukan Zahra bersama orang tuanya, saya juga mungkin sulit percaya, saking kagumnya dengan Zahra. Tapi cara penyampaian saya tentu tidak akan sama dengan orang-orang menyebalkan ini dengan mengatakan bahwa tulisan itu palsu, mustahil, dan mentertawakannya. Sad people, they have never been inspired by great minds!

Di sosiologi, ada satu konsep namanya Cultural Capital. Konsep ini dibangun oleh P. Bourdieu di alam Perancis saat itu yang penuh sekat-sekat kelas sosial. Konsep ini kemudian disesuaikan di berbagai konteks, dan dalam kajian-kajian pendidikan keluarga, cultural capital dimaknai sebagai modal (capital) yang berupa budaya yang dibangun di keluarga, yang membawa “keuntungan” untuk pendidikan anak. Jumlah buku yang dimiliki keluarga dan kegiatan membaca buku untuk hiburan (hobi) , misalnya, adalah salah satu indikator cultural capital karena koleksi buku ini tidak serta merta menunjukkan financial capital atau kekayaan material yang dimiliki keluarga. Kenapa? sebab tidak semua keluarga yang kaya raya termotivasi untuk menghargai buku, dan sebaliknya.

Lalu apa hubungannya dengan cerita Zahra tersebut?

Ada indikator lain untuk mengenali besarnya cultural capital yang tersedia di rumah anak-anak. Jawaban untuk pertanyaan “Ke mana kamu pergi liburan?” juga indikator cultural capital. Dosen saya (orang Amerika) berlibur dengan anaknya ke Afrika, mereka melakukan berbagai kegiatan sosial di sana. Ketika kembali ke kampusnya, si anak mendapatkan begitu banyak inspirasi dari pengalamannya tersebut sehingga ia dapat menulis tugas-tugas kuliah politiknya tentang kasus-kasus yang insightful dan ia mendapat penghargaan dari kampusnya untuk tulisan yang susun berdasarkan pengalaman liburannya.

Annette Lareau, seorang pakar pendidikan di AS, menulis bahwa indikator lainnya dari cultural capital yang membuat anak lebih terampil dalam berpikir adalah komunikasi antara anak dan orang dewasa (orangtua, khususnya) yang lebih terbuka. Di keluarga yang orang tuanya melarang anak untuk mempertanyakan aturan atau keputusan yang dibuat orang tuanya dengan alasan “harus nurut, tidak boleh kurang ajar”, mereka tidak terlatih untuk mempertanyakan fenomena yang terjadi di sekitarnya. Mereka kurang terlatih untuk merangkaikan berbagai kejadian dan konsep. Jika mereka belum paham atau tidak mengerti, mereka cenderung diam bukannya bertanya. Akibatnya, pengetahuan yang mereka serap juga lebih terbatas.

Lihat tulisan Zahra, ia mengaitkan cita-cita, parenting dan motivasi belajar! Komentar orang-orang dewasa menujukkan bahwa ia mampu mengaitkan konsep-konsep yang cukup kompleks dengan sangat baik.

Menurut saya, Zahra dilimpahkan cultural capital yang luar biasa dari kedua orang tuanya. Ketika liburan, Zahra bertualang bersama kedua orangtuanya naik motor ke berbagai tempat: pantai, gunung, candi, sumatra, desa yang tidak dapat dijangkau mobil, dan sebagainya. Zahra mempunya banyak kesempatan bukan saja untuk melihat berbagai hal di negeri ini, tetapi ia leluasa membahasnya dengan kedua orangtuanya.

Ayah Zahra adalah co-founder Berbagi Buku“, gerakan yang digagas untuk menyebarkan buku bacaan yang baik ke berbagai pelosok tanah air. Zahra ikut serta dalam melakukan kegiatan ini. Zahra yang berusia 9 tahun terbiasa budaya berbagi, terbiasa melihat beragamnya negeri kita.

Di sela-sela petualangannya, “budaya” menulis yang dibiasakan di rumahnya juga adalah budaya yang tentu saja menjadi capital penting untuk kemampuannya bertutur, mengungkapkan ide secara terstruktur dan jelas. Harus diakui, menulis bukanlah kekuatan besar kebanyakan orang Indonesia karena kita lebih banyak dihadapkan dengan kegiatan lisan (ngobrol-ngobrol) daripada tulisan.

Dengan pendidikan kedua orangtua Zahra, budaya scientific juga agaknya ditumbuhkan di rumah sehingga Zahra dilatih untuk memberikan argumen, pendapat, penjelasan (reasoning). Maka kalau Zahra menulis seperti itu, lalu punya prestasi akademik yang cemerlang juga, saya rasa sikap curiga dan menuduh kalau tulisan itu adalah dikte orangtuanya (ya, ada yang berkomentar tentang “plagiarisme” segala) adalah sikap pemalas. Malas mikir, sekurang-kurangnya berpikir bahwa tidak semua anak hidup seperti dirinya sendiri yang mungkin minim cultural capital di lingkungnnya.

Kedua, malas berpikir bahwa diantara orang-orang kebanyakan, akan ada yang namanya “outliers” yang berbeda dengan kita-kita yang biasa-biasa saja. Sudah malas, lalu kasar bertutur katanya. Ini menyedihkan.

Semoga Zahra tidak sakit hati, selalu semangat berkarya. Semoga Ayah Zahra juga selalu semangat berbagi inspirasi untuk kita semua, warga social media.

 

 

Ganti suasana 

Saya ingin berbagi tentang belajar secara mandiri (independent learning). Awalnya enggan juga berbagi hal ini, karena saya bukan yang bener-bener sukses dalam akademik hehe. Tapi saya tepis pikiran seperti itu karena rasanya setiap orang berhak kan ya berbagi, jadi ngga harus Nobel Prize winner yang boleh berbagi cara belajar yang baik (lagian Nobel laureate pasti lebih penting mikirin dunia lah ya).

Saya sedang menulis disertasi, jadi harus bisa bekerja mandiri, mengatur waktu dan mood adalah tantangan terbesar kedua. Yang pertama tentunya statistik hihi.

Foto di atas adalah meja makan di dapur, di apartmen “shoe-box size” kami di Albany. Saya memanfaatkannya sebagai alternatif meja belajar yang ada di kamar tidur.

Bukan karena meja belajar saya tidak nyaman, tetapi saya bosenan, jenuh rasanya bekerja selalu di spot yang sama.

Terutama di musim dingin seperti ini, saya bersyukur punya meja makan dan dapur yang bisa dialihfungsikan (di-dwifungsikan, tepatnya) sebagai meja belajar sekaligus ruang makan. Di musim yang lebih hangat untuk keluar rumah, di mana langit tidak gelap di jam 4 sore, saya biasanya memilih tempat lain sebagai alternatif: perpustakaan, kampus, dan coffee shops.

Suasana belajar yang nyaman memang penting. Tetapi ganti suasana, based on my own experience, juga tidak kalah penting.

Jadi tentang tempat belajar/bekerja ini ada dua hal yang menurut saya perlu diingat supaya mood belajar bisa terus dijaga:

  1. Merancang kamar belajar, atau meja belajar yang asri dan nyaman memang penting. Tapi fokus ke satu tempat itu saja rasanya tidak cukup.
  2. Buat daftar tempat yang bisa jadi alternatif, baik di dalam rumah, di luar rumah (di halaman), dan di tempat lain (ingat2 coffee shop mana yang nyaman dan ga banyak orang teriak-teriak, kecuali memang suasana teriak-teriak seperti itu memang disukai).

Untuk poin ke-2, saya ingat ketika SD pun saya sudah punya spot-spot favorit untuk bikin PR selain di meja belajar: di teras rumah, meja telpon, tangga, dan meja makan yang besar.

Dan saat ini, untuk coffee shop saya suka di Tierra Roasters, satu blok dari apartemen saya. Mejanya besar, ada wifi (walau ini ga terlalu penting), toiletnya bersih, dan yang datang banyak bawa kerjaan mereka jadi saya ikut semangat kerja bareng, dan… Kalau sesekali pengen nguping pembicaraan orang, biasanya menarik-menarik obrolan pengunjungnya hehehe.