Guru, lautan dalam sebutir buih

Seperti halnya resolusi Tahun Baru atau mengenang masa-masa indah pada hari ulang tahun ataupun anniversary, Hari Guru Nasional membawa saya pada kenangan-kenangan terkait profesi sebagai guru/dosen. Setelah 4 tahun saya absen dari profesi ini untuk kembali menjadi (maha)siswa, baru di tengah tahun 2016 ini saya kembali menjadi pengajar (yang masih belum percaya diri untuk menyebut diri sebagai pendidik, karena tahu perbedaan besar antara pengajar dan pendidik).

Saya kembali gagap, setelah 4 tahun saya tidak merasa ucapan “selamat hari guru” dialamatkan ke saya, hari ini keluarga dan teman-teman kembali mengucapkannya ke saya. Seolah-olah kini saya kembali menjadi bagian dari mereka yang dianggap mempunyai tugas mulia, yang membangun bangsa. Orang-orang di “sekitar” saya (di media sosial, maksudnya) menyampaikan rasa terima kasih mereka pada rekan sejawat saya, karena jasa-jasa guru lah mereka merasa berhasil meraih apa yang mereka miliki saat ini. Sungguh suatu ungkapan yang mengembangkan hati.

Sekaligus menyesatkan.

Mohon maaf, teman-teman guru. Maaf atas pernyataan saya ini karena saya ingin berterus terang saja bahwa ungkapan “tanpa guru apalah jadinya aku” yang dilagukan dengan nada indah itu adalah hal yang membuat saya agak tersesat dalam menghayati peran guru. Membuat saya merasa begitu powerful seolah-olah saya dapat mengubah nasib dan hidup orang lain. Membuat saya lupa, bahwa dalam hidup setiap orang ada begitu banyak orang lain, lingkungan lain, kehidupan lain di luar ruang kelas yang dialami setiap individu murid saya. Sehingga mengatakan bahwa “apa jadinya mereka tanpa saya” adalah pernyataan sombong!

Saya harus sadar, menepikan sejenak kata-kata manis tentang guru, dan menyadari bahwa pertama, saya hanyalah satu dari begitu banyak faktor yang membuat murid dan alumni atau mantan murid-murid saya, mencapai apa yang mereka cita-citakan. Kedua, saya hanya dapat menstimulasi mereka untuk berfikir, tapi saya tidak bisa membuat otak mereka bekerja; saya hanya membantu mereka menemukan dan memilih jalan, tapi saya tidak dapat menggantikan peran kedua kaki mereka; saya hanya bisa memberikan pertimbangan, namun mereka yang mengambil keputusan apa yang akan mereka lakukan dengan ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki. Setiap manusia, termasuk mereka yang menjadi murid saya, mempunyai kehendak bebas, mempunyai kemerdekaan untuk memilih dan menentukan jalan hidup mereka, maka betapa sombongnya saya jika mengatakan “ia begitu karena saya.”

Betapa sombongnya ketika saya dengan penuh rasa kecewa berkata, “Ya Tuhan, sebegitu parahnya kah saya sebagai gurunya, mengapa sekarang mantan murid saya seperti itu?” Sombong karena saya mengira sayalah yang membuat ia menjadi dirinya sekarang, padahal baik buruknya ia hari ini bukan karena saya semata. Sombong karena mengira sayalah satu-satunya faktor yang mempengaruhi hidup murid-murid saya, bahwa sayalah satu-satunya yang mengajarkan mereka bernalar.

Seperti halnya orang-orang merefleksikan hidup mereka di hari ulang tahun, di hari ini saya merefleksikan peran dan profesi saya sebagai guru. Saya melihatnya dari sisi yang jauh dari sudut pandang yang membuat profesi ini nampak perkasa. Hari ini saya melihat diri saya bagian dari kolektivitas dan kompleksitas masyarakat. Saya melihat profesi ini berdampingan dengan realitas sosial yang tidak selalu bergerak mengikut akal sehat. Saya melihat ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang tertuang dalam kurikulum dan dibicarakan di kelas berjajar dengan hingar bingar pertarungan politik dan narasi kebencian yang disebarkan di berbagai media dan jalan-jalan kota. Saya melihat agenda kedaulatan bangsa yang menjadi visi pendidikan berinteraksi dengan agenda kelompok mayoritas yang tergila-gila homogenitas. Guru hanyalah buih di samudra hidup, buih yang kecil untuk membuat perubahan besar.

Tapi tunggu dulu, menulis soal buih di samudra ini mengingatkan saya pada kata-kata Rumi yang saya baca di suatu tempat (mungkin di sebuah kedai kopi, saya tidak begitu ingat), ujarnya: “You are not just a drop in the ocean, you are the ocean in a drop.”

Saya sadar bahwa mungkin peran guru ada hanya dalam satu bab dari tebalnya kisah hidup murid-murid. Saya mungkin hanya satu menit dari puluhan ribu jam, satu dari ratusan momen pembelajaran yang dialami mereka. Tapi saya guru, dan saya tidak akan berhenti untuk berusaha menjadi pengaruh yang baik untuk langkah yang diambil murid-murid saya, menjadi bagian yang  positif dalam hidup mereka, membantu mereka untuk membuat pilihan dan keputusan, membantu mereka mengenali potensi diri lalu mendorong mereka untuk berkembang dan berkarya. Maka seperti halnya orang-orang membuat resolusi di Tahun Baru, di Hari Guru ini saya melihat peran ini hanyalah sepenggal bagian dari hidup dan masa depan murid-murid saya, tetapi profesi yang kecil ini akan saya jalani sebaik-baiknya, sambil berharap bahwa “buih-buih” lainnya memberikan kebaikan pada hidup murid-murid saya.

 

Cerita yang sedih atau menyenangkan?

Suatu malam selepas kegiatan workshop di Sydney, Australia, saya menginap di rumah sepupu, dan berbagi tempat tidur dengan anak perempuannya yang duduk di kelas 1 SD, Biya (tentu bukan nama sebenarnya ya).

Biya sangat enerjik, dan seperti anak-anak lainnya yang baru berkenalan dengan teman, ia memperlihatkan saya berbagai hal kesukaannya: film kartun, baju, hasil karyanya di sekolah, dan buku cerita. Yang terakhir ini sangat berkesan bagi saya.

Sebelum tidur, saya membaca beberapa buku bersama Biya, dan iapun semangat menunjukkan kemampuannya membaca dengan lancar. Salah satu bukunya berjudul “Amy & Louis”, buku cerita yang Biya dapat dari program membaca di sekolahnya.

Ceritanya tentang dua sahabat yang hidup bertetangga, Amy dan Louis, yang selalu bermain bersama setiap hari. Lalu suatu hari Amy dan keluarganya harus pindah rumah ke kota yang jauh jaraknya dari rumah Louis. Dan berangsur-angsur ceritanya pun menjadi sedih dan mengharukan, tentang dua anak yang kesepian kehilangan sahabat. Bahkan di akhir ceritapun kedua sahabat tersebut tidak kembali ceria.

“Oh, what a sad story,” ujar saya setelah selesai membaca.

“Why sad?” Tanya Biya heran. Iapun menunjukkan beberapa halaman di awal cerita yang menunjukkan betapa menyenangkannya Amy dan Loius bermain bersama. “Look! They’re happy here, they’re happy here…” Ujarnya sambil terus menunjuk ke gambar-gambar yang memang mengundang senyum.

Sayapun membalas, “you’re right. Some parts are happy…” Dan tanpa sempat meneruskan, Biya berkata lagi:

“Yes, the ending is not fun, but they are happy here. And happy again, and sad…” Biya terus nyerocos dengan lucunya.

Malam itu Biya mengingatkan, betapa sering saya terobsesi dengan bagian akhir  dari suatu cerita, sehingga jika berakhir menyedihkan, saya mengabaikan bagian yang menyenangkan di bagian awal atau tengah cerita. Dan lebih buruk lagi, kadang saya memandang suatu pengalaman hidup pun demikian.

Saya selalu berharap suatu pertemanan tidak berakhir menyedihkan. Bahkan menyandingkan “akhir” dengan “pertemanan” saja sudah membuat saya sedih, sebenarnya. Tapi kenyataannya memang kadang as we grow up, we grow apart. Dan ketika harus growing apart, saya sering fokus hanya pada satu titik perpisahan itu saja, tanpa mengenang betapa banyak keindahan, keseruan, keceriaan yang pernah saya alami dengan teman tersebut.

Terima kasih, Biya sudah mengingatkan bahwa life is indeed as series of ups and downs, jangan terobsesi pada akhir penggalan cerita hidup, jangan terobsesi pada satu perasaan dan momen karena iapun akan terganti dengan perasaan dan pengalaman lainnya.

FDS & Kesenjangan Akses Pendidikan

Pertanyaan saya ketika membaca berita tentang Full Day School (FDS) adalah: “untuk siapa ia dirancang?”

Sebelum menjawabnya, saya mau merujuk pada tujuannya dahulu. FDS, menurut Muhadjir, dirancang untuk meningkatkan efektivitas pendidikan termasuk pendidikan karakter dan etika dengan alasan guru akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai karakter apabila waktu anak di sekolah diperpanjang.  Sampai sini saya menangkap kesan bahwa Muhadjir  berasumsi sekolah, bukan rumah, adalah tempat yang lebih efektif untuk membangun karakter.

Asumsi tersebut tidak universally salah, walaupun ia mengundang banyak kritik khususnya dari orangtua yang merasa dilecehkan kemampuannya untuk  mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral di rumah. Artinya, bisa jadi memang model sekolah ini membantu sebagian keluarga di tanah air.

Jika kita merujuk pada data, bisa jadi ada orangtua yang terbantu dengan konsep pendidikan seperti ini. Dari survei keluarga Indonesia di beberapa provinsi di Indonesia Timur, sebagian besar anak-anak usia 7 sampai 14 tahun mempunyai orangtua dengan pendidikan tertinggi SMP. Para orangtua dengan tingkat pendidikan tersebut mengalami kesulitan untuk membantu anak belajar di rumah karena tidak mengerti isi pelajarannya. Mereka juga tidak punya waktu untuk menemani anak belajar, terutama karena jadwal pekerjaan mereka tidak teratur seperti halnya karyawan di kantor-kantor.

Selain itu, penelitian di banyak negara juga cukup konsisten menunjukkan bahwa keluarga dan lingkungan tempat tinggal atau pergaulan di luar sekolah adalah faktor penting yang menjelaskan gap prestasi belajar antara anak-anak dari kelas menengah/menengah atas dan anak-anak dari kelas sosial yang lebih rendah. Annette Lareau, seorang sosiolog pendidikan menjelaskan bahwa di konteks Amerika Serikat, anak-anak dari keluarga kelas menengah dan menengah atas memberikan “suplemen” belajar seperti kursus bahasa asing, les seni, kegiatan membaca buku, dan lain-lain pendukung pendidikan yang sulit diakses oleh kebanyakan anak-anak dari kelas bawah. Sangat mungkin fenomena ini juga terjadi di Indonesia.

Untuk konteks di atas, FDS ini berpotensi untuk jadi solusi masalah inequality dengan cara menyediakan berbagai kegiatan termasuk ekstrakurikuler yang sebelumnya sulit diperoleh anak-anak dari kelas bawah. Namun demikian harapan akan adanya kesetaraan akses pendidikan tersebut terguras ketika Mendikbud melanjutkan penjelasannya dan menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang harus dibayarkan orang tua untuk FDS ini.

Jika iuran dan sumbangan (baca: uang) sudah menjadi variabel dalam kualitas pendidikan, sulit untuk berharap bahwa FDS ini dapat memperkecil gap antar kelas sosial dalam mengakses pendidikan yang berkualitas.

Disamping itu, beranggapan bahwa semakin lama di sekolah (atau semakin sedikit waktu senggang di lingkungan rumah) semakin banyak anak belajar adalah asumsi yang terlalu menyederhanakan kompleksitas proses belajar. Dengan kata lain asumsi tersebut lemah. Alasan rendahnya tingkat pendidikan orangtua seringkali digunakan oleh pendukung model sekolah sejenis ini. Mereka berargumen bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu dan tinggal di lingkungan yang kurang kondusif perlu dimasukkan ke sekolah full day. Sekolah kemudian menjadi sebuah “inkubator” bagi anak-anak ini agar mereka dapat tumbuh kembang tanpa terkontaminasi hal-hal yang menyimpang dan kontraproduktif dengan pendidikan mereka. Namun hasil kajian-kajian yang mengukur efektivitas model sekolah ini masih belum cukup konsisten dan meyakinkan untuk menunjukkan bahwa model tersebut berhasil. Sebaliknya, sekolah-sekolah ini tidak cukup menyiapkan anak-anak untuk hidup di dunia nyata.

Maka untuk siapa dan untuk apa sebenarnya FDS ini dirancang? Tidak pasti, namun saya cukup yakin bahwa model sekolah ini tidak dirancang untuk anak-anak miskin dan mereka yang berada di wilayah 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal) yang sebenarnya menjadi prioritas pembangunan pendidikan Indonesia. Ada dua alasan mengapa saya beranggapan demikian. Pertama dan yang paling mudah adalah merujuk pada pernyataan Mendikbud bahwa ketika anak pulang sekolah jam 5 sore, ia akan segera bertemu orangtuanya yang juga pulang kantor pada jam tersebut. Jelas bahwa FDS bias kota, dirancang untuk menyelesaikan masalah berkaitan dengan pola hidup di perkotaan, khususnya masyarakat kelas menengah yang bekerja di kantor sampai jam 5 sore.

Alasan kedua, disain FDS tidak berpihak pada anak-anak miskin yang seringkali harus mengorbankan kesempatan sekolah demi membantu keluarga mencari nafkah. Jika jam belajar “normal” saja sudah menyulitkan mereka, maka apalagi harus sehari penuh di sekolah; bagaimana mereka dapat bekerja? Anak-anak di wilayah 3T dan pedesaan masih banyak yang harus belajar di sekolah-sekolah yang minim akan fasilitas dan sumber belajar serta kekurangan guru dengan kualifikasi yang sesuai. Sementara di pinggiran kota, sebuah gedung sekolah dan fasilitasnya termasuk guru harus digunakan secara bergilir oleh siswa yang sekolah pagi dan sore. Maka disain FDS tidak dapat menjadi solusi yang relevan dengan kondisi dan tantangan-tantangan yang harus dihadapi siswa dan juga sekolah yang melayani anak-anak miskin. Sebaliknya, FDS berpotensi menjadi beban baru bagi sekolah-sekolah tersebut.

Saya fokus pada rencana FDS dan korelasinya dengan masalah kesenjangan akses pendidikan karena masalah ketidaksetaraan ini merupakan satu agenda besar Republik ini. Di samping itu, kesenjangan akses pendidikan di Indonesia tidak terjadi secara kebetulan tapi sistemik, berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagaimana yang dilaporkan Bank Dunia tahun 2015, meskipun anak-anak di pedesaan khususnya di Kawasan Indonesia Timur mengakses pendidikan dasar, namun rata-rata hasil belajar mereka belum dapat menyamai teman-teman mereka di perkotaan dan di wilayah Indonesia Barat karena lemahnya infrastruktur dan kualitas proses belajar.

Akses pendidikan dasar yang “gratis” serta Program Indonesia Pintar dirancang untuk menjawab masalah kesenjangan ini, namun sayangnya FDS tidak beriringan dengan kedua kebijakan tersebut.

Ma man!


Suami saya. Berfoto di museum Tea Party, bersama satu quote yang diucapkan isteri John Adams, tokoh penting dalam revolusi AS menentang tirani Inggris. Ujar Ibu Abigail, “jika kita ingin mempunyai pahlawan, politikus, dan filsuf, maka kita perlu mempunyai perempuan-perempuan yang terpelajar.” Pada eranya, profesi-profesi tersebut masih banyak dikuasai laki-laki (sekarang masih ngga?) tapi bukan itu yang saya mau ceritakan di sini.

Suami saya spontan minta difoto bersama quotes ini, sebelum saya benar-benar baca isinya. Suami saya juga suka lebih dulu ngeh kalau ada hal yang bias gender baik mendiskreditkan perempuan ataupun laki-laki.

Suatu hari kami sedang mengantri kasir di supermarket. Di kanan-kiri kami terpajang majalah-majalah termasuk majalah yang ditargetkan untuk konsumen perempuan. “Liat deh,” kata suami saya, “kenapa juga headlines-nya harus urusan kosmetik dan urusan bentuk badan semua,” ia menunjuk beberapa majalah. “Kenapa ngga ngebahas perang atau politik sama sekali? Emang ngga bisa apa ya bahas politik dari angle perempuan?”

Suami saya adalah orang pertama yang mengingatkan saya bahwa mahasiswa adalah mahasiswa, mau laki atau perempuan, tanggung jawab mahasiswa adalah belajar, berpegal-pegal duduk membaca dan menulis. Maka jangan jadi beban jika tidak bisa memasak atau tidak sempat mencuci pakaian. Ia tidak pernah mengaitkan prestasi kuliah dengan jenis kelamin.

Ia paham dan mengakui bahwa setiap orang mempunyai identitas yang majemuk. Saya seorang mahasiswa, asisten penelitian, istri, dst.; yang seringkali mengalami konflik peran. Menyadari hal itu, suami saya tidak pernah berhenti membantu untuk menentukan prioritas: “aku bisa ngobrol dan makan-makan sama kamu kapan aja, tapi diskusi soal disertasi dengan teman-temanmu lebih mendesak,” ujarnya.

Suami saya tidak peduli apakah dia feminis. Yang dia fokuskan adalah “how to get things done.” Mau saya atau dia yang kerjakan, tidak penting baginya. Selama piring tercuci, makanan tersedia, dan proses kuliah saya jalan dengan aman, itu cukup. Maka kami tidak peduli dengan “peran istri, peran suami” yang kaku dan statis.

Tidak pernah bosan saya bilang ke teman-teman dan keluarga, bahwa PhD yang saya raih ini tidak akan terjadi jika suami dan saya masih sibuk memikirkan “peran-peran” yang membatasi cara kami berpikir dan berperilaku. Tidak akan terjadi jika suami saya tidak berpikir progresif.

“Behind every success woman…” Nope. Not just behind. Saya tidak pernah lupa moments di mana ia justru harus di depan, menarik semangat saya untuk bangun lagi, menerabas lagi layers of fears dan putus asa; saat ia harus berada di samping saya, lengkap dengan madu, teh, larutan cuka apel, vitamin, yang ia jejerkan di sela-sela tumpukan kertas dan layar laptop. Dan ketika di belakangpun, ia bukan mengikuti saya melainkan menyiapkan jaring pengaman ketika saya berkali-kali ambruk.

kesempatan pendidikan

Educational opportunities atau kesempatan dalam mendapatkan pendidikan adalah payung besar topik disertasi saya. Biasanya kalau ditanya teman dalam lift atau sambil ngantri di kantin, jawaban saya selalu “it’s about educational opportunities for primary school children in eastern Indonesia.” Dan dari situ biasanya berkembang ke arah yang berbeda-beda, ada yang lebih tertarik dengan sumber data, ada yang bertanya tentang metode analisis data, dsb. Di sini saya ingin fokus pada istilah “kesempatan pendidikan” ini.

Di paragraf terakhir di bab terakhir disertasi yang baru saya submit, tertulis begini (kira-kira dalam bahasa Indonesia):

“…kajian ini menguatkan argumen tentang pentingnya mengatasi masalah kesenjangan dalam kesempatan pendidikan anak-anak di Indonesia, khususnya Indonesia Timur. Menggunakan istilah ‘kesempatan’, kajian ini menunjukkan bahwa belajar tidak terbatas pada urusan kemampuan individu (learning ability) tetapi ada faktor-faktor diluar kuasa anak yang signifikan berkaitan dengan kemampuan kognitif mereka…”

Dalam disertasi saya, faktor-faktor tersebut adalah latar belakang keluarga dan lingkungan tempat tinggal mereka. Sebagai contoh, salah satu variabel, yaitu tingkat pendidikan orangtua, berkorelasi secara signifikan dengan hasil tes kognitif anak, dan efek pendidikan orangtua ini berbeda di lingkungan (villages atau kelurahan) yang berbeda.

“…Karena anak-anak mempunyai kesempatan berbeda-beda, maka perbedaan hasil tes (dalam hal ini tes kemampuan kognitif) tidak seharusnya disempitkan interpretasinya pada kemampuan dan upaya anak dalam belajar, namun hasil tes ini menginformasikan kondisi dan kesempatan pendidikan yang berbeda-beda. Interaksi antara faktor sekolah, rumah, dan lingkungan tempat tinggal sebagaimana yang ditunjukkan dalam disertasi ini mengindikasikan bahwa tidak hanya faktor sekolah tetapi juga faktor luar sekolah memiliki peran yang penting dalam memberikan kesempatan belajar dan dalam mendorong perkembangan kognitif anak-anak.”

Mengapa saya ngomongin soal topik disertasi saya? Ngga ada yang lebih menarik ya?! ;) 

Menulis disertasi tentang “kesempatan” selama setahun lebih ini membuat saya merasa bahwa pendidikan yang saya dapat tidak lain adalah suatu kesempatan, bukan semata-mata karena usaha saya sendiri. Ini adalah suatu kesempatan yang saya dapat karena banyak faktor-faktor yang mendukung.

Dosen pembimbing saya bilang, “it’s a privilege.” Sebuah keberuntungan, kesempatan spesial yang tidak terjadi pada banyak orang. Tentu dia tidak sembarangan menggunakan kata privilege karena ia tahu masih banyak perempuan usia tigapuluhan di negara berkembang yang harus struggle untuk mendapatkan hak-hak yang mendasar, termasuk hak dalam pendidikan.

Lalu saya merespon dosen saya tersebut, “I know. Saya sadar betul  bahwa saya lahir di kelas menengah, orang tua saya menanamkan nilai-nilai tentang pendidikan yang kuat, saya menikmati pendidikan swasta yang relatif baik dan mendapat jalur khusus untuk kuliah di perguruan tinggi negeri, mendapatkan bantuan kuliah S2 dan beasiswa S3, mendapat dukungan dari suami, seniors dan kolega… I always remember people who have contributed to my education.”

Dosen saya merespon, “I know you are aware of it. Kamu sadar bahwa kamu punya kesempatan untuk bisa di sini, mencapai semua ini. Bukan cuma sadar secara individual bahwa kamu didukung banyak pihak, tetapi secara profesional kamu tahu bahwa ada sistem yang mendukung atau menghambat kesempatan pendidikanmu. Namun sekarang, selain berterima kasih pada mereka, pikirkan apa yang dapat kamu lakukan dengan ilmu pengetahuan ini.”

Dan dosen saya tersebut melanjutkan dengan nasehat yang tidak ingin saya lupakan, maka saya tulis di sini:

“When you’re aware that it’s a privilege, kamu tahu bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama. Mereka belajar di tempat lain, memberimu ilmu yang lain, yang tidak kamu dapat di sini. Maka belajarlah dari mereka. Bukan sekedar mendengarkan karena kamu menghargai orang bicara, tapi dengarkan karena kamu tahu bahwa itu adalah kesempatan kamu belajar dari mereka. You are trained to be a researcher, use the skill.

Kedua, be kindYou’ve got great educational opportunities here. Sekarang kamu punya gelar, kamu akan berada di satu kondisi dan posisi di mana mereka akan look up to you. Stop saying that you don’t wish to be there, because you have to be there! Kamu akan berada di posisi di mana orang berharap kamu menggunakan ilmu pengetahuanmu untuk membantu mereka, menyelesaikan masalah, mencari jalan keluar. Maka be kind ketika mengaplikasikan ilmu pengetahuanmu. Mereka tidak mendapatkan special opportunities seperti kamu, jadi jangan hakimi, hujat, atau salahkan mereka. Niatkan untuk membantu, jangan niatkan untuk mengkritik semata. Niatkan untuk bekerja sama, jangan niatkan untuk menunjukkan bahwa kamu lebih tahu dan orang tidak mampu menggapai pengetahuanmu yang tinggi.

So be kind. Kamu akan tergoda untuk mematahkan argumen, mengkritik habis kebijakan, dan menghabiskan waktumu untuk menjadi yang paling benar. Hati-hati akan godaan akademia yang seperti itu. Kamu akan disibukkan dengan hal-hal yang tidak terlalu penting dalam membuat perubahan, sebagaimana yang kamu cita-citakan. You know you can’t do it all alone; and to work with people, don’t you think you need to be kind?” 

Lalu kami membahas beberapa tips untuk melatih diri supaya saya menjadi scholar yang baik :) Betapa beruntungnya saya mendapatkan guru seperti dosen saya ini. Mendapatkan pendidikan yang seperti ini.

Ketika kita tahu pendidikan yang kita raih, ilmu yang kita dapat, dan kemahiran yang kita kuasai adalah buah dari kesempatan yang orang, institusi, dan lingkungan berikan pada kita, maka tidak sulit memahami mengapa kita berbagi dan memberi kesempatan pendidikan pada sesama, kan?

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016.

kalau mau tanya kabar, gunakan “apa kabar?”

Beberapa hari yang lalu kami berhasil kontak teman lama yang sudah kami anggap keluarga. Sudah bertahun-tahun tidak ngobrol karena mereka tinggal di daerah pedesaan di tanah air, yang dulunya sulit dapat koneksi internet. Suara mereka terdengar excited, maklum mereka menganggap suami saya seperti anak kandung.

“Kabarmu dan Nisa piye, udah ada anak?” tanya teman kami dengan nada penuh rindu.

Apik,” jawab suami saya. “Belum ada, masih ngantri,” jawabnya asal penuh canda.

Kami sudah sering ditanya seperti itu. Apa karena sudah terbiasa makanya saya tidak marah, ngga tau juga. Tapi mungkin karena kami berdua merasa secure dengan hidup kami yang bergejolak ini (hahaha the ups and downs of husband and a graduate student), saya sama sekali tidak tersinggung. Sebaliknya, saya geli sendiri mendengar respon spontan saya dalam hati:

“Setahun ngutek-ngutek urusan disertasi, bukannya ditanya progress disertasi malah tetep aja anak yang ditanya. Jangan-jangan selama ini aku fokus pada hal-hal yang ngga penting, nih.”

Saya bisa dan selalu mengerti perasaan sedih, marah, sakit hati pasangan yang terus menerus ditanya sudah punya anak atau belum, anaknya berapa, dst. Saya juga tidak segan menunjukkan keberatan saya jika belum apa-apa dituduh sengaja tidak mau punya anak, atau menunda karena lebih mementingkan kuliah atau karier. Masalahnya bukan benar tidaknya tuduhan itu, tetapi karena (1) menuduh – bukannya bertanya baik-baik, adalah perilaku yang menyebalkan, dan (2) berasumsi bahwa setiap orang harusnya atau pastinya mau punya anak adalah asumsi yang sempitberanggapan bahwa apa yang saya harapkan pasti juga menjadi harapan orang lain.

Malam itu saya justru seperti mendapat pencerahan tentang jawaban untuk pertanyaan “kenapa ya orang Indonesia (yang saya kenal) seringkali dan terus-terusan nanya soal anak?” yang seringkali dianggap sebagai pertanyaan menyebalkan.

Dugaan saya, pertanyaan itu, dengan konteks spesifik kami alami malam itu (yaitu sahabat lama yang bertahun-tahun ngga ngobrol), bisa jadi tidak ada maksud jauh selain: “How’s your life, are you guys happy, doing well? I miss you and I don’t want to miss great moments of your life!” ya, karena disampaikan dengan ramah, maka itulah yang terdengar di hati saya ketika ditanya soal anak (harus saya garis bawah soal ramah karena pernah juga dong saya dibilang “mau ke mana sih kuliah terus, karier terus. Anak kapan?” komentar ini cari gara-gara dan saya tanggapi lah dengan selayaknya).

Saya menginterpretasikan pertanyaan ramah soal anak sebagai bentuk “apa kabar” karena saya tahu bahwa dalam masyarakat Indonesia yang saya kenal, menyampaikan rasa rindu, sayang, dan rasa peduli akan kebahagiaan teman, anak, adik, saudara, bukanlah hal yang biasa dilakukan dan sulit mengungkapkannya karena tidak terbiasa.

Mungkin budaya kita tidak terbiasa mengungkapkan perasaan pada orang lain, kosakata kita sangat terbatas untuk mengungapkan perasaan, terlebih pada lawan jenis yang dianggap tidak pas untuk mengatakan rindu. Padahal sebenarnya saya dan suami tidak berpikir jelek kalau ada teman yang bilang begitu ke kita.

Lalu apa tujuan saya menulis ini? Ini bukan tentang saya saja, tetapi saya ingin berbagi saran saja, dari seorang yang ngga punya anak pada mereka yang punya anak:

Kalau kangen dan ingin tanya apa kabar saya, silakan to the point saja tanpa harus tanya soal anak. Silakan tanya ke saya dan suami, “Bagaimana hidup di Albany, betah?” atau “Kalian kedinginan ngga kalau winter?” atau “Kalian mengalami rasisme ngga di Amerika?” itu lebih baik daripada “Kok belum punya anak?” karena pertanyaan terakhir ini tidak bisa kami jawab dan tidak membawa acara temu kangen kita ke arah yang lebih menyenangkan.

Masalah punya anak itu urusan pribadi/rumah tangga, tapi jika sudah terlanjur bertanya “Sudah punya anak?” dan dijawab “Belum,” pesan saya adalah jangan merasa kasihan, jangan iba karena belum tentu mereka yang menikah ingin punya anak. Biasa-biasa aja, seperti yang saya alami berikut:

Saat ngumpul-ngumpul selepas menyelesaikan disertasi, teman kuliah saya tanya: “do you have a kid?”

Nope,” jawab saya.

Thinking of having ones?”

Yeah. One or two, maybe,” ujar saya santai.

“Then I hope you’ll have them,” balasnya tidak kalah relax.  

Biasa-biasa saja. Kalau mau mendoakan, maka doakanlah apa yang teman/saudara kita harapkan, bukan apa yang kita harapkan untuknya. Ini satu pelajaran yang akan saya bawa pulang dan terus saya coba terapkan sebagai upaya respect pada jalan hidup yang dipilih setiap orang.